Beranda » Tentang Bung Karno » Angkatan Perang Tetaplah waspada tetaplah siap-siaga!

Angkatan Perang Tetaplah waspada tetaplah siap-siaga!

Angkatan Perang Tetaplah waspada tetaplah siap-siaga!

(Perintah Harian Diutjapkan oleh Presiden /Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI pada upatjara peringatan Hari Angkatan Perang ke-17 tanggal 5 oktober)

 

Ir. Soekarno

Ir. Soekarno

Saudara-saudara sekalian,

Lagi kita merajakan Hari Angkatan Perang kita.

Tatkala kita pada tanggal 5 oktober 1945 mengambil keputusan untuk membuat angkatan Perang Republik Indonesia, pada waktu itu kita dihadapi oleh dua persoalan. Pertama, apa kah perlu bangsa Indonesia jang telah memproklamirkan kemerdekannja pada tanggal 17 Agustus 1945 membentuk, mempunjai, memelihara dan djikalau perlu mempergunakan Angkatan Perang?

Djawaban kita pada waktu itu ialah: Ja, perlu, oleh karena Republik Indonesia jang dibentuk pada tanggal 17 Agustus 1945 itu dirongrong oleh musuh, diusahakan hantjur-leburnya oleh musuh.

Itu adalah persoalan pertama jang kita hadapi. Persoalan kedua jang kita hadapi ialah apakah kita mampu membentuk, mempujai, memelihara Angkatan Perang jang kuat, jang pantas mendjadi Angkatan daripada satu Negara jang bernama Republik Indonesia. Pertanjaan itupun dijawab oleh kita dengan djawaban tegas: Ja! Malahan bukan sadja persoalan hal Angkatan Perang, tetapi persoalan hal proklamasi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus ’45 adalah satu persoalan jang kita djawab dengan: Ja!

Berpuluh-puluh tahun, saudara-saudaraku, sebelum 17 Agustus ’45 kita telah dihadapi oleh pertanjaan itu, Apakah kita pada satu saat akan menjatakan kemerdekaan kita, kita jang telah 300 tahun di djadjah oleh fihak Belanda, kita jang boleh dikatakan telah kehilangan segenap potensi-potensi untuk mendjadi satu bangsa jang kuat, bisa berdiri diatas kaki sendiri?

Tatkala kita mananjakan kepada diri kita sendiri, apakah kita akan memproklamirkan kemerdekaan atau tidak, maka djawab kita lebih dahulu ialah: Ja, kita harus memproklamirkan kemerdekaan kita itu, oleh karena kemerdekaan adalah hak daripada tiap-tiap bangsa. Apa lagi hak daripada bangsa Indonesia. Satu bangsa jang besar, satu bangsa jang menduduki seluruh kepulauan antara dua benua dan dua samudera, satu bangsa jang mempunjai kebudajaan tinggi.

Pertanjaan, apakah kita akan memproklamirkan kemerdekaan kita, kita djawab sebagai tadi saja katakan dengan djawaban: Ja, oleh karena itu adalah hak bangsa Indonesia seluruhnja. Malahan bukan sadja hak daripada bangsa Indonesia tetepi hak daripada tiap-tiap bangsa.

Kedua, pertanjaan kita ialah, sebelum 17 Agustus ’45 itu, sebelum kita menggeledekkan kita punja proklamasi, pertanjaan ialah, apakah kita akan mampu memiliki kemerdekaan, memelihara kemerdekaan, mampu berdiri sendiri, mampu menjusun, membina negara jang kuat, membina satu masjarakat jang memberi kebahagiaan kepada seluruh anggota-anggota bangsa Indonesiajang terserak antara Sabang dan Merauke? Djawab kitapun: Ja, kita mampu sebab meskipun potensi-potensi bangsa oleh pendjadjahan jang 300 tahun, 350 tahun itu seperti telah dihantjur-leburkan oleh imperalisme asing, toh potensi-potensi itu masih tetap ada pada kita.

Luasnja daerah wilajah bangsa kita, tanah air kita adalah amat besar sekali. Pada tanggal 28 oktober 1928-pun kita telah bersumpah, satu sumpah jang membakar hati kita sekalipun, bahwa kita adalah satu bangsa, dari Sabang sampai Merauke. Satu bangsa, bahwa kita adalah bertanah air jang satu dari sabang sampai merauke, bahwa kita mempunjai bahasa jang satu, dari sabang sampai merauke. Disamping kita mempunjai potensi-potensi jang setjukup-tjukupnya, untuk berdiri sendiri, untuk berdiri sebagai satu negara jang berdaulat, untuk berdiri sebagai satu masjarakat jang bisa memberi kebahagiaan kepada segenap anggota bangsa Indonesia, dari sabang sampai merauke. Malah boleh dikatakan, bahwa tidak ada satu bangsa didunia ini jang mempunjai potensi-potensi ekonomis, potensi-potensi materiil jang setinggi, sebanjak, sekaja bangsa Indonesia dan tanah air Indonesia itu.

Maka oleh karena itu kita berbesar hati, penuh dengan kepertjajaan, bahwa kemerdekaan jang nanti akan kita proklamirkan akan bisa berlangsung terus, bahwa kita bisa mendjadi satu negara kuat, bahwa kita bisa menjusun satu masjarakat jang adil dan makmur, jang kuat pula.kita bukan satu bangsa jang ketjil, jang anggotanja berpuluh-puluh djuta, jang tiap-tiap tahun bertambah, jang pada waktu itu 70 djuta, kemudian sebentar lagi mendjadi 98 djuta, tidak lama lagi mendjadi 100 djuta, dan demikian seterusnja.

Tetapi ada satu lagi satu potensi lain, saudara-saudara, jang tidak bisa dinilaikan dengan harga-harga materiil, jaitu potensi rasa kebangsaan, potensi isi hati, potensi semangat nasional, potensi semangat semangat tekad merdeka. Itu potensi tak dapat dinilaikan dengan harga materiil. Bangsa kita hatinja berkobar-kobar, menjala-jala dengan potensi semangat ini. Malah tadi telah kita katakan, tahun ’28 kita telah bersumpah, sumpah kita jang tiga warna.

Maka oleh karena itu, saudara-saudara, karena kita mempunjai segenap potensi, maka kita pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan kejakinan penuh memproklamirkan kemerdekaan kita, jaitu kemerdekaan jang berbentuk Republik Kesatuan Indonesia, berwilajah dari Sabang sampai Merauke.

Tetapi saudara-saudara mengetahui, bahwa proklamasi jang kita keluarkan pada tanggal 17 Agustus ’45 itu dirongrong oleh musuh. Musuh hendak kembali mendjadjah tanah air kita, musuh hendak kembali menghantjur-leburkan negara jang kita dirikan, musuh hendak kembali memantjangkan bendera si-tiga warna ditanah air kita lagi.

Maka oleh karena itu, saudara-saudara, pada tanggal 5 oktober 1945 kita dengan hati dan tekad jang bulat mendekritkan dibentuknja satu Angkatan Perang Republik Indonesia. Dan tiap-tiap tahun kita peringati pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia itu, jang mula-mula, saudara-saudara, pembentukan itu belum kita djlankan dengan sekuat tenaga, oleh karena itu mempunjai perasaan, bahwa kita ini adalah satu bangsa jang suka damai, bangsa jang menudju kepada perdamaian, bahwa bangsa jang jang menudju kepada perdamaian seluruh umat manusia didunia ini. Satu bangsa jang hanja mengemukakan, bahwa kita punja alasan-alasan untuk berdiri sendiri ialah alasan untuk keadilan semata-mata, satu bangsa jang hendak menondjolkan sahadja hal keadilan daripada alasan-alasan itu.

Tetapi saudara-saudara mengetahui sendiri, mengalami sendiri, bahwa tidak tjukup kita hanja mengemukakan adilnja kita punja pendirian.

Bertahun-tahun kita telah berkata kepada fihak Belanda, bahkan seluruh dunia, bahwa Irian Barat adalah sebagian daripada tanah air bangsa Indonesia, bahwa Irian Barat termasuk wilajah Republik Indonesia jang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus ’45, bahwa Irian barat adalah sebagian daripada tubuh daripada bangsa Indonesia jang mendiami rumah besar antara Sabang dan Merauke.

Tetapi alasan keadilan, alasan mengemukakan keadilan ini, saudara-saudara , tak dihiraukan oleh fihak musuh. Dan memang fihak musuh, walaupun mengetahui adilnja kita punja alasan ini, mereka memang dari tadinja telah berkehendak meneruskan pendjadjahanja di Irian barat . Pendjadjahan disebagian besar daripada di tanah air Indonesia terpaksa mereka lepaskan pada tanggal 27 Desember 1949. Tetapi mereka hendak meneruskan pendjadjahan di Irian barat itu sebenarnja sampai ke achir djaman. Meskipun mereka berkata bahwa mereka akan memberi hak penentuan nasib sendiri kepada rakjat Irian barat, dalam hati sanubari mereka sebenarnja mereka akan merneruskan kolonialisme di Irian Barat itu, meskipun dibawah bentuk jang lain , jang bernama neo-kolonialisme.

Saja berkata, bertahun-tahun kita mengemukakan kita punja alasan-alasan, tetapi sebagai tadi saja katakan alasan-alasan kita itu tidak digubris mereka.

Maka oleh karena itulah, saudara-saudara, empat tahun jang lalu saja katakan. Sedjak daripada sekarang ini mari kita bentuk Angkatan Perang Republik indonesia sekuat-kuatnja, sesentosa-sentosanja. Nah, maka dengan pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia jang mulai empat tahun jang lalu, artinja Angkatan perang Republik Indonesia jang kuat, kita lantas menjatakan, bahwa perdjuangan untuk membebaskan Irian Barat tidak hanja kita dasarkan kepada alasan-alasan keadilan sadja,tetapi terutama sekali kepada alasan konfrontasi kekuatan, konfrontasi politikkita djalankan, kita menjusun kita punja kekuatan dilapangan politik, dilapangan ekonomi, dilapangan kekuatan sendjata. Maka dengan tjepat, dengan gesit kita memperkuat Angkatan Perang kita, Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Kepolisian Negara, sehingga mendjadi satu bentuk Angkatan perang jang sekuat-kuatnja.

Inilah, saudara-saudara, ditambah dengan aksi Trikora jang kita adakan mulai tanggal 19 Desember tahun 1961, achirnja, saudara-saudara, saudara melihat hasilnja, fihak Belanda bertekuk lutut, fihak Belanda akan menjerahkan Irian Barat kembali kepada kita melalui beberapa prosedure jang saudara-saudara telah ketahui.

Sekarang, saudara-saudara, prosedure itu sedang didjalankan. Insja Allah SubhanahuWata’ala, tanggal 1 Mei 1963 nanti seluruh Irian barat akan bernaung di bawah bendera Sang Merah putih , Bendera saka, bendera su sutjikita jang kita telah miliki beribu tahun. Insja Allah, bulan mei ’63 itu seluruh tanah air Republik indonesia sudah benar-benar kembali kedalam tangannja bangsa Indonesia sendiri. Dan sebagai sudah saja katakan pada tanggal 17 Agustus jang lalu, kita akan dapat mulai dengan pembangunan jang sehebat-hebatnja, jang tadinja untuk memperkuat Angkatan perang kita, untuk mendjalankan Trikora. Tiga-perempat daripada seluruh keuangan kita pergunakan untuk hal itu. Sesudah Irian Barat benar-benar dibawah kekuasaan Republik Indonesia, artinja di dalam lingkungan kekeluargaan bangsa Indonesia sendiri, maka beaja jang tiga perempat dari seluruh budget negara itu bisa kita kurangi dan sebagian besar bisa kita pergunakan untuk pembangunan, djuga pembangunan di Irian Barat.

Malahan kita sudah bertekad untuk membangun Irian Barat itu setjepat mungkin, agar supaja didalam waktu jang setjepatnja Irian Barat berdiri setaraf dengan bagian-bagian Indonesia jang lain-lain.

Sekarang kita menghadapi pertanjaan, apakah dengan kembalinja Irian Barat kepangkuan Ibu Pertiwi ini Angkatan perang Indonesia masih dibutuhkan?

Dengarkan, hai pemuda-pemuda, pradjurit-pradjurit, bintara-bintara, perwira-perwira: Ja, kita masih tetap membutuhkan Angkatan perang Republik Indonesia jang kuat. Maka oleh karena itu, saja menganjurkan, memerintahkan kepadamu sekalian, perkuat Angkatan Perangmu, perkuat segala kesatuan-kesatuanmu, perkuat batin didalam dadamu, perkuat agar supaja Republik Indonesia bisa mendjalankan tugas dan darma baktinja dengan segala kebaikannja. Djangan lupa, meskipun Irian Barat menurut prosedure sudah ditentukan akan kembali pada bulan Mei 1963 sama sekali di bawah kibaran bendera Sang merah putih, tetapi kita harus tetap waspada, tetap kita membuka kita punja mata, tetap kita harus siap-siaga tetap kita harus menggenggam kita punja sendjata didalam tangan kita ini, djangan kita lepaskan sedetikpun adanja.

Ketjuali itu, saudara-saudara, dunia sekarang ini adalah satu dunia pertentangan, dnia jang didalamnja perdjuangan menghantjur-leburkan kolonialisme dan imperialisme jang sedang berdjalan dengan sekuat-kuatnja, sehebat-hebatnja, sedahsjat-dahsjatnya. Maka berhubung dengan itu fihak imperalis, fihak kolonialis dari segala bangsa, masih tetap akan mentjoba mempertahankan dirinja. Malahan mengenai Republik Indonesia, ketahuilah, ada usaha-usaha untuk mengepung Republik Indonesia ini dari fihak imperialis. Maka oleh karena itu kita harus tetap berdiri diatas kekuatan bangsa Indonesia, tetap berdiri diatas kekuatan Angkatan perang Republik Indonesia, tetap berdiri diatas semangat rakjat Indonesia jang telah bersumpah: Sekali merdeka, Tetap merdeka. Tetap diatas sumpah kita, kita bermaksud mendirikan satu negara besar antara Sabang dan Merauke, satu negara jang tidak terpetjah-belah, satu negara kesatuan; tetap untuk berdiri mendjadi satu bangsa dengan tiada beda, tiada membuat perbedaan antara suku-suku bangsa, baik warna kuliynja bagaimanapun, antara Sabang dan Merauke; mendirikan satu masjarakat jang adil dan makmur jang memberi kebahagiaan kepada seluruh bangasa Indonesia, bahkan ingin sekali membantu, menjumbang kepada perdjuangan seluruh umat manusia didunia ini untuk membangun satu dunia baru jang didalamnja umat manusia mengalami satu hidup jang lebih lajak, lebih selamat, lebih bahagia daripada jang sudah-sudah.

Mengenai angkatan perang, dus dagorder saja: tetaplah waspada, tetaplah siap-siaga, tetaplah memperkuat engkau punja diri, tetaplah mensutjikan, menghebatkan, menggelorakan engkau punja semangat, agar supaja harapan daripada bangsa Indonesia ini tetap dapat dipelihara dan didjaga oleh Republik Indonesia, didjaga oleh Angkatan Perang Republik Indonesia.

 

Sekian perintah harian saja.

 

Sumber : Koleksi Perpustakaan Proklamator Bung Karno


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: