Isilah seluruh kalbumu dengan rasa kebanggaan nasional!

Isilah seluruh kalbumu dengan rasa kebanggaan nasional!

Amanat Presiden Sukarno pada upatjara pemberian tanda-kehormatan kepada Regu Thomas Cup Indonesia di Istana Negara, Djakarta, pada tanggal 28 Mei 1964

Ir. Soekarno

Ir. Soekarno

 

Saudara-saudara sekalian,

Beberapa saat jang lalu saudara-saudara menjaksikan penjematan—katakanlah dengan kata mudah – bintang-bintang kepada saudara-saudara, anak-anak kita jang telah mempertahankan Thomas Cup ditangan kita, dan mempertahankan nama bangsa Indonesia dan Republik Indonesia.

Tatkala saja mendapat laporan bahwa regu Indonesia berhasil untuk mempertahankan Thomas cup itu dalam milik kita, maka pada waktu itu sebagai saudara-saudara barangkali membatja disurat-surat kabar, saja mengadjukan tiga pertanjaan. Pertanjaan kepada pelapor, jaitu regu kita menang dalam pertandingan di Tokyo berhadapan dengan harimau-harimau, pahlawan-pahlawan pertandingan badminton dari negeri lain itu, karena apa? Apakah karena keunggulnja taktik bertempur daripada regu kita? Dan jang saja maksudkan taktik bertempur regu kita ialah, mula-mula regu kita itu, jah, seperti alon-alon asal kelakon, tetapi kemudian pada saat-saat jang achir, baru mereka menundjukkan kebantengannja, mungkin satu taktik didalam satu pertempuran dilapangan olah raga. Saudara-saudara barangkali mengetahui, bahwa misalnja djikalau ada pertandingan lari tjepat, sesuatu orang mula-mula kalmpjes aan” dia selalu ketinggalan di belakang, kalmpjes aan” maksudnja ialah untuk buat dia sendiri tidak membuang tenaga terlalu banjak, tetapi buat musuh supaja musuh itu kehabisan tenaga. Kemudian pada saat jang terachir dia mengeluarkan segenap dia-punja tenaga, tenaga lari tjepat sehingga achirnja dialah jang lebih dahulu mentjapai garis achir. Itu mungkin satu taktik.

Pertanjaan kedua ialah, apakah regu kita itu menang, oleh karena itu regu kita mati-matian didalam semangatnja, didalam kemauannja untuk menang, jaitu jang didalam semangatnja, didalam kemauannja untuk menang, jaitu jang didalam bahasa Inggeris dinamakan “sheer will, sheer will to win”, kemauan jang keras untuk menang?

Ketiga, kemenangan regu kita itu apakah karunia Allah SWT? Jang saja sebutkan didalam pembitjaraan kepada pelapor itu “the hand of God”.

Tiga kemungkinan ini saja kemukakan, menangnja regu kita mungkin karena lihainja taktik regu kita, jaitu mula-mula alon-alon asal kelakon, tetapi pada saat jang terachir menundjukkan kebantengannja, jang luar biasa. Atau karena kerasnja kemauan, “sheer wiill to win”, atau “the hand of God”.

Saudara-saudara telah membatja disurat-surat kabar, bahwa saja-punja pendapat ialah bahwa “the Hand of God” berlaku. Sebagaimana didalam Revolusi kita selalu unggul boleh kita katakan, selalu unggul oleh karena kita selalu diridhoi oleh Tuhan. Selalu “the Hand of God” membantu kepada kita.

Didalam Revolusi kita itu kita mengalami beberapa saat jang boleh dikatakan, kita sudah hampir ambles, hampir binasa, hampir hantjur lebur, entoch kita menang, en touch pada sesuatu saat jang terachir kita mentjapai apa jang kita perdjoangkan. Dan selalu didalam saat-saat jang demikian itu, saja berpendapat “the hand of God” telah bekerdja.

Dan didalam hal regu Thomas Cup kita mentjapai kemenangan berhadapan dengan—sebagai kukatakan tadi – harimau-harimau, pahlawan-pahlawan olahraga dari negara asing, dalam hal itupun saja berkejakinan bahwa “the Hand of God” telah bekerdja. Tetapi apakah itu berarti bahwa dus faktor jang kedua atau faktor jang kedua atau faktor jang pertama tidak berlaku? Djikalau kita mentjapai kemenangan di Tokyo itu karena pertolongan Tuhan – dan demikian halnya—djikalau di Tokyo itu “the hand of God” telah bekerdja, apa itu arti bahwa dus regu kita tidak menundjukkan taktik bertempur jang unggul? Atau regu kita tidak menundjukkan “ sheer will to win” jang sehebat-hebatnja?

Saudara-saudara, “the Hand of God” telah berdjalan, telah bekerdja oleh karena itu kita menundjukkan “sheer will to win”, “sheer will to win” diatas dasar jang sutji, bukan “ sheerwill to win” dengan tjara jang litjik. Tetapi “sheer will to win” atas dasar jang sutji, “sheer will to win” bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk keagungan tanah-air kita, untuk keagungan bangsa kita, untuk keagungan revolusi kita, untuk keagungan tjita-tjita kita, “sheer will to win” untuk djaga nama bangsa Indonesia ini tetap tinggi dipandangan chalajak internasional.

Demikian pula kita telah mendjalankan taktik pertempuran jang sebaik-baiknja. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, meskipun saja mengambil konklusi, sebagaimana selalu saja mengambil demikian, jaitu bahwa “the Hand of God” telah bekerdja, saja mengambil konklusi demikian itu ialah oleh karena saja pertjaja bahwa tiada sesuatu kedjadian besar didunia ini terdjadi tanpa “ the Hand of God”. Meskipun saja berkesimpulan, bahwa didalam pertandingan Thomas Cup di Tokyo itu “the Hand of God” membantu kita, itu tidak berarti bahwa kita tidak menundjukkan “sheer will” jang sehebat-hebatnja, menundjukkan taktik pertempuran jang segemilang-gemilangnja.

Apalagi djikalau kita mengenal pemuda-pemuda jang berdiri dibelakang saja sekarang ini, mereka satu persatu adalah pahlawan. Mereka satu-persatu adalah pemuda-pemuda dengan jang dadanja, djiwanja, rohnja, kalbunja, berkobar-kobar dengan “sheer will” untuk mengangungkan tanah-air dan bangsa.

Tatkala beberapa tahun jang lalu, Saudara-saudara, saja buat pertama kali memberi restu kepada regu Thoamas Cup Indonesia, pada waktu mereka akan berangkat kepertandingan Thomas Cup, pertama kali saja memberi restu kepada mereka itu saja sudah mengatakan kepada mereka, bahwa kita dalam tiap-tiap pekerdjaan besar, tiap-tiap perdjoangan harus mengisi dada kita ini dengan apa jang saja namakan dedication of life. Dedication of life. Hanja dicakalau kita mempunjainja, melaksanakan dedication of life didalam dada kita , hanja djikalau demikianlah kita bisa bekerdja mati-matian membasahi bumi ini dengan tetesan-tetesan keringat kita. Hanja djikalau kita-punja djiwa adalah djiwa jang menjala-njala, berkobar-kobar dengan dedication of life, kita bisa membasahi bumi ini dengan darah kita, Saudara-saudara. Hanja djikalau kita benar-benar didalam kalbu kita menjala-njala, berkobar-kobar dengan devotion, pengabdian, dedication of life, maka kita bisa memobilisir tiap-tiap urat sjaraf didalam badan kita ini untuk bekerdja dan berdjoang.

Oleh karena itu maka pada saat saja memberi restu kepada regu Thomas Cup pertama kali saja telah berkata, hai, anak-anakku, kau pergilah kepertandingan Thomas cup itu. Aku tidak bisa memberi bekal kepadamu daripada restuku dan daripada permintaan kepadamu, supaja engkau sekalian dedicate engkau-punja hidup itu kepada sesuatu hal jang luhur dan sutji.

Saja pada waktu itu mentjeritakan, didalam pergerakan kita, didalam perdjoangan kita ini, kita telah mengalami beribu-ribu, berpuluh-puluh ribu pemuda-pemuda, pemudi-pemudi, Rakjat kita mengorbankan diri. Ada jang naik tiang penggantungan, ada jang meringkuk didalam pendjara berpuluh-puluh tahun. Ada jang dibuang ke Boven Digul, ada jang mati dirawa-rawanja Boven Digul.

Apa sebab mereka naik tiang penggantungan dengan muka jang bersenjum? Apa sebab mereka meringkuk didalam pendjara djuga dengan muka jang tersenjum, bertahun-tahun? Apa sebab mereka pergi ke Boven Digul, rimba-raja jang tiada batas kesunjian dan kebiadabannja, djuga dengan muka jang berseri-seri? Apa sebab mereka di Boven Digul menghembuskan nafas jang penghabisan, kadang-kadang dengan utjapan, hai selamat tinggal kawan-kawan, teruskanlah perdjoeangan ini, djikalau mereka tidak mempunjai dedication of life didalam djiwanja.

Maka oleh karena itu saja tekankan kepada regu Thomas Cup tempo-hari itu, korbankanlah dedication of your life kepada tjita-tjita agung, membesarkan nama bangsa kita,  membesarkan nama negara kita, membesarkan nama Indonesia.

Beberapa minggu jang lalu, Saudara-saudara, ada seorang penulis, penulis Amerika menaja kepada saja: Presiden Sukarno, apakah jang telah Tuan berikan kepada bangsa Tuan? Aku mendjawab, aku tidak memberikan barang jang besar kepada bangsaku, aku hanja menjumbang barang jang ketjil-ketjil kepada bangsaku, aku adalah orang yang dha’if, dha’if itu artinya ketjil. Aku bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin jang lain-lain memberikan barang-barang jang ketjil kepada bangsa Indonesia.

Wartawan Amerika itu mendjawab, no, no, Mr. President , Tuan ada memberikan satu hal kepada bangsa Indonesia, jang dengan satu hal itu bangsa Indonesia bisa mendjadi satu bangsa jang besar. Saja tanja, what is it, apa, satu hal jang aku berikan kepada bangsa Indonesia, jang dengan itu bangsa Indonesia bisa mendjadi satu bangsa jang besar? Penulis Amerika itu mendjawab, you have given your people the feeling of national pride. Tuan telah memberikan kepada bangsa Tuan rasa kebanggaan nasional, you have given to your people the feeling of national pride.

Sesudah ia berkata demikian, saudara-saudara, memang, aku telah didalam sedjarah manusia

Ini, sedjarah semua bangsa, dan aku melihat dari sedjarah semua bangsa itu, baik bangsa kulit putih, maupun bangsa kulit kuning, maupun bangsa kulit hitam, maupun bangsa jang berdiam diutara, maupun bangsa jang berdiam diselatan, maupun bangsa jang berdiam dibarat, maupun bangsa jang berdiam di timur, bahwa bangsa bangsa-bangsa itu djikalau pernah mengalami satu keagungan, ialah oleh karena pada saat-saat itu mereka mempunjai national pride.

Tiongkok dulu mempunjai sedjarah besar, oleh karena dulu – sekarang djuga—rakjat Tiongkok mempunjai national pride. Perantjis dulu mempunjai sedjarah besar, oleh karena mereka mempunjai national pride. Bangsa Italia dulu mempunjai sedjarah jang besar, oleh karena mereka mempunjai national pride. Bangsa Rus mempunjai sedjarah jang besar, berbuat perbuatan jang besar, oleh karena pada waktu itu mereka mempunjai national pride.

Bangsa Kmer, jaitujang sekarang terkenal berdiam di Kambodja, bangsa Kmer itu, Saudara-saudara, dulu mempunjai nama jang Agung dan mendjalankan perbuatan Agung, oleh karena mereka mempunjai national pride. Pada waktu itu mereka boleh dikatakan melebarkan dia-punja dada. Kami adalah bangsa Kmer”. Dan dengan rasa jang demikian itu, kami adalah bangsa kmer, mereka telah menjebarkan kebudajaan bukan sadja di, apa jang sekarang dinamakan Kambodja, tetapi sampai djuga ketanah-air kita ini, jaitu kebudajaan jang terkenal dengan kebudajaan “warman”, “ aditiawarman” , “purnawarman”, dan lain-lain sebagainja.

Dulu, saudara-saudara, kita mengenal keagungan India dibawah pemerintah Chandra Goptha. Apa candra Goptha punja djasa jang terbesar kepada bangsa India? Djasa Candra Goptha jang terbesar buat bangsa India ialah, bahwa ia berkata kepada bangsa India, India adalah pusat daripada kebudajaan. Engkau harus merasakan keagungan bangsamu itu.

Apa sebab bangsa jang berdiam dikanan-kirinja sungai Euprata dan Tigris didjaman purbakala dapat membangun kultur jang setinggi-tingginja? Samapai tanah-tanah sekeliling sungai Eupratha dan Tigris itu didalam kitab indjil dikatakan “ het land van melk en honig”, negeri jang melimpah dengan air susu dan madu, ialah oleh karena pada saat itu mereka mempunjai national pride. Radja Nebukadnezar sendiri berkata, aku adalah dari bangsa ini. Aku, by the grace of Ahura Mazda, karena karunia daripada Ahura Mazda, I am the King of Kings, aku adalah maharadja daripada sekalian radja, dan aku adalah anggota daripada bangsa jang berdiam dikanan-kiri sungai ini. Aku memerintahkan air sungai air ini mengalir dipadang-padang. Artinja, Nebukadnezar telah memerintahkan air dari sungai Euphrata dan Trigis untuk mengirigeer tanah-tanah tandus, sehingga negerinja mendjadi satu negeri air susu dan madu. Dan apa sebab Nebukadnezar, Nabukuduzur bisa mengerahkan rakjatnya, dan rakjatnja suka bekerdja membuat gili-gili dan membuat bendungan-bendungan didalam sungai-sungai hebat seperti Euphata dan Tigris, ialah oleh karena bangsa itu pada waktu itu mempunjai national pride. We are people of Babilon, kami adalah bangsa Babilonia.

Maka oleh karena itu, Saudara-saudara, pada saat saja harus memberi djawaban atas pertanjaan, apa sebab regu Thomas Cup menang, disamping aku mendjawab “the Hand of aku minta mereka itu dedicate mereka punja hidup –, aku selalu mentjoba memberi national pride kepada tiap-tiap orang Indonesia jang aku harap daripadanja membanting tulang untuk tanah-air dan bangsanja.

Inilah Saudara-saudara, kekagumanku kepada mereka, bahwa mereka benar-benar dedicate mereka-punja life untuk mengagungkan nama Indonesia, dedicate mereka-punja life untuk mengabdi kepada Tuhan. Tidakkah Ferry Sonneville sendiri tadi telah berkata : karena karunia Tuhan Jang Maha Esa; jang selama pertandingan itu nama Tuhan Jang Maha Esa ini  ini diatas bibir daripada pemuda-pemuda jang berdiri dibelakangku ini. Mereka dengan itu, semuanja boleh dikatakan pahlawan Indonesia. Terimakasih, Pahlawan Indonesia! Nah, karena itupun saja sebagai presiden, sebagai Bapak daripada Rakjat Indonesia ini telah memberi tanda-tanda kehormatan kepada mereka itu.

Kita mengadakan revolusi ini buat apa, Saudara-saudara? Berulang-ulang sudah kukatakan, kita mengadakan Revolusi ini untuk memenuhi Amanat Penderitaan Rakjat. Lihat unsur jang pertama daripada Amanat Penderitaan Rakjat itu, ingin hidup didalam satu negara jang merdeka, ingin hidup sebagai satu bangsa jang merdeka. Satu bangsa jang tidak mempunjai national pride, tidak akan mempunjai kerangka pertama daripada Revolusinja. Sesuatu bangsa jang Revolusinja berkerangka jang pertama, ingin hidup sebagai satu bangsa jang merdeka, jang berdaulat penuh, tersusun didalam satu Republik kesatuan jang berwilajah kekuasaan antara Sabang dan merauke, bangsa jang mempunjai kerangka jang demikian itu ialah bangsa jang ber-national pride. Bangsa jang tidak mempunjai nasional pride, tidak akan mempunjai kerangka revolusi sebagai kerangka pertama Revolusi kita.

Karena itu, saudara-saudara, onward, no retreat!

Dalam pada orang Amerika itu berkata, bahwa hal jang aku berikan kepada bangsa Indonesia ialah terutama sekali “the feeling of national pride”, dalam hal menerima itu saja teruskan pesanku kepada bangsa Indonesia. Hai, bangsa Indonesia, isilah seluruh, segenap kalbumu dengan rasa, feeling of national pride itu. Hanja djikalau engkau dadamu penuh dengan rasa “feeling of national pride”, engkau akan bisa menjusun masjarakat jang adil dan makmur, engkau akan bisa mendjadi mertjusuar daripada “the revolution of mankind”, jaitu revolusi jang hendak mengadakan dunia baru tanpa exploitation  de I’homme par I’homme.

Anak-anakku jang berdiri dibelakangku, sekali lagi terimakasih. Moga- moga Tuhan memberkatimu semuanja.

Terimakasih.

 

Sumber : Koleksi Perpustakaan Proklamator Bung Karno

Angkatan Perang Tetaplah waspada tetaplah siap-siaga!

Angkatan Perang Tetaplah waspada tetaplah siap-siaga!

(Perintah Harian Diutjapkan oleh Presiden /Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI pada upatjara peringatan Hari Angkatan Perang ke-17 tanggal 5 oktober)

 

Ir. Soekarno

Ir. Soekarno

Saudara-saudara sekalian,

Lagi kita merajakan Hari Angkatan Perang kita.

Tatkala kita pada tanggal 5 oktober 1945 mengambil keputusan untuk membuat angkatan Perang Republik Indonesia, pada waktu itu kita dihadapi oleh dua persoalan. Pertama, apa kah perlu bangsa Indonesia jang telah memproklamirkan kemerdekannja pada tanggal 17 Agustus 1945 membentuk, mempunjai, memelihara dan djikalau perlu mempergunakan Angkatan Perang?

Djawaban kita pada waktu itu ialah: Ja, perlu, oleh karena Republik Indonesia jang dibentuk pada tanggal 17 Agustus 1945 itu dirongrong oleh musuh, diusahakan hantjur-leburnya oleh musuh.

Itu adalah persoalan pertama jang kita hadapi. Persoalan kedua jang kita hadapi ialah apakah kita mampu membentuk, mempujai, memelihara Angkatan Perang jang kuat, jang pantas mendjadi Angkatan daripada satu Negara jang bernama Republik Indonesia. Pertanjaan itupun dijawab oleh kita dengan djawaban tegas: Ja! Malahan bukan sadja persoalan hal Angkatan Perang, tetapi persoalan hal proklamasi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus ’45 adalah satu persoalan jang kita djawab dengan: Ja!

Berpuluh-puluh tahun, saudara-saudaraku, sebelum 17 Agustus ’45 kita telah dihadapi oleh pertanjaan itu, Apakah kita pada satu saat akan menjatakan kemerdekaan kita, kita jang telah 300 tahun di djadjah oleh fihak Belanda, kita jang boleh dikatakan telah kehilangan segenap potensi-potensi untuk mendjadi satu bangsa jang kuat, bisa berdiri diatas kaki sendiri?

Tatkala kita mananjakan kepada diri kita sendiri, apakah kita akan memproklamirkan kemerdekaan atau tidak, maka djawab kita lebih dahulu ialah: Ja, kita harus memproklamirkan kemerdekaan kita itu, oleh karena kemerdekaan adalah hak daripada tiap-tiap bangsa. Apa lagi hak daripada bangsa Indonesia. Satu bangsa jang besar, satu bangsa jang menduduki seluruh kepulauan antara dua benua dan dua samudera, satu bangsa jang mempunjai kebudajaan tinggi.

Pertanjaan, apakah kita akan memproklamirkan kemerdekaan kita, kita djawab sebagai tadi saja katakan dengan djawaban: Ja, oleh karena itu adalah hak bangsa Indonesia seluruhnja. Malahan bukan sadja hak daripada bangsa Indonesia tetepi hak daripada tiap-tiap bangsa.

Kedua, pertanjaan kita ialah, sebelum 17 Agustus ’45 itu, sebelum kita menggeledekkan kita punja proklamasi, pertanjaan ialah, apakah kita akan mampu memiliki kemerdekaan, memelihara kemerdekaan, mampu berdiri sendiri, mampu menjusun, membina negara jang kuat, membina satu masjarakat jang memberi kebahagiaan kepada seluruh anggota-anggota bangsa Indonesiajang terserak antara Sabang dan Merauke? Djawab kitapun: Ja, kita mampu sebab meskipun potensi-potensi bangsa oleh pendjadjahan jang 300 tahun, 350 tahun itu seperti telah dihantjur-leburkan oleh imperalisme asing, toh potensi-potensi itu masih tetap ada pada kita.

Luasnja daerah wilajah bangsa kita, tanah air kita adalah amat besar sekali. Pada tanggal 28 oktober 1928-pun kita telah bersumpah, satu sumpah jang membakar hati kita sekalipun, bahwa kita adalah satu bangsa, dari Sabang sampai Merauke. Satu bangsa, bahwa kita adalah bertanah air jang satu dari sabang sampai merauke, bahwa kita mempunjai bahasa jang satu, dari sabang sampai merauke. Disamping kita mempunjai potensi-potensi jang setjukup-tjukupnya, untuk berdiri sendiri, untuk berdiri sebagai satu negara jang berdaulat, untuk berdiri sebagai satu masjarakat jang bisa memberi kebahagiaan kepada segenap anggota bangsa Indonesia, dari sabang sampai merauke. Malah boleh dikatakan, bahwa tidak ada satu bangsa didunia ini jang mempunjai potensi-potensi ekonomis, potensi-potensi materiil jang setinggi, sebanjak, sekaja bangsa Indonesia dan tanah air Indonesia itu.

Maka oleh karena itu kita berbesar hati, penuh dengan kepertjajaan, bahwa kemerdekaan jang nanti akan kita proklamirkan akan bisa berlangsung terus, bahwa kita bisa mendjadi satu negara kuat, bahwa kita bisa menjusun satu masjarakat jang adil dan makmur, jang kuat pula.kita bukan satu bangsa jang ketjil, jang anggotanja berpuluh-puluh djuta, jang tiap-tiap tahun bertambah, jang pada waktu itu 70 djuta, kemudian sebentar lagi mendjadi 98 djuta, tidak lama lagi mendjadi 100 djuta, dan demikian seterusnja.

Tetapi ada satu lagi satu potensi lain, saudara-saudara, jang tidak bisa dinilaikan dengan harga-harga materiil, jaitu potensi rasa kebangsaan, potensi isi hati, potensi semangat nasional, potensi semangat semangat tekad merdeka. Itu potensi tak dapat dinilaikan dengan harga materiil. Bangsa kita hatinja berkobar-kobar, menjala-jala dengan potensi semangat ini. Malah tadi telah kita katakan, tahun ’28 kita telah bersumpah, sumpah kita jang tiga warna.

Maka oleh karena itu, saudara-saudara, karena kita mempunjai segenap potensi, maka kita pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan kejakinan penuh memproklamirkan kemerdekaan kita, jaitu kemerdekaan jang berbentuk Republik Kesatuan Indonesia, berwilajah dari Sabang sampai Merauke.

Tetapi saudara-saudara mengetahui, bahwa proklamasi jang kita keluarkan pada tanggal 17 Agustus ’45 itu dirongrong oleh musuh. Musuh hendak kembali mendjadjah tanah air kita, musuh hendak kembali menghantjur-leburkan negara jang kita dirikan, musuh hendak kembali memantjangkan bendera si-tiga warna ditanah air kita lagi.

Maka oleh karena itu, saudara-saudara, pada tanggal 5 oktober 1945 kita dengan hati dan tekad jang bulat mendekritkan dibentuknja satu Angkatan Perang Republik Indonesia. Dan tiap-tiap tahun kita peringati pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia itu, jang mula-mula, saudara-saudara, pembentukan itu belum kita djlankan dengan sekuat tenaga, oleh karena itu mempunjai perasaan, bahwa kita ini adalah satu bangsa jang suka damai, bangsa jang menudju kepada perdamaian, bahwa bangsa jang jang menudju kepada perdamaian seluruh umat manusia didunia ini. Satu bangsa jang hanja mengemukakan, bahwa kita punja alasan-alasan untuk berdiri sendiri ialah alasan untuk keadilan semata-mata, satu bangsa jang hendak menondjolkan sahadja hal keadilan daripada alasan-alasan itu.

Tetapi saudara-saudara mengetahui sendiri, mengalami sendiri, bahwa tidak tjukup kita hanja mengemukakan adilnja kita punja pendirian.

Bertahun-tahun kita telah berkata kepada fihak Belanda, bahkan seluruh dunia, bahwa Irian Barat adalah sebagian daripada tanah air bangsa Indonesia, bahwa Irian Barat termasuk wilajah Republik Indonesia jang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus ’45, bahwa Irian barat adalah sebagian daripada tubuh daripada bangsa Indonesia jang mendiami rumah besar antara Sabang dan Merauke.

Tetapi alasan keadilan, alasan mengemukakan keadilan ini, saudara-saudara , tak dihiraukan oleh fihak musuh. Dan memang fihak musuh, walaupun mengetahui adilnja kita punja alasan ini, mereka memang dari tadinja telah berkehendak meneruskan pendjadjahanja di Irian barat . Pendjadjahan disebagian besar daripada di tanah air Indonesia terpaksa mereka lepaskan pada tanggal 27 Desember 1949. Tetapi mereka hendak meneruskan pendjadjahan di Irian barat itu sebenarnja sampai ke achir djaman. Meskipun mereka berkata bahwa mereka akan memberi hak penentuan nasib sendiri kepada rakjat Irian barat, dalam hati sanubari mereka sebenarnja mereka akan merneruskan kolonialisme di Irian Barat itu, meskipun dibawah bentuk jang lain , jang bernama neo-kolonialisme.

Saja berkata, bertahun-tahun kita mengemukakan kita punja alasan-alasan, tetapi sebagai tadi saja katakan alasan-alasan kita itu tidak digubris mereka.

Maka oleh karena itulah, saudara-saudara, empat tahun jang lalu saja katakan. Sedjak daripada sekarang ini mari kita bentuk Angkatan Perang Republik indonesia sekuat-kuatnja, sesentosa-sentosanja. Nah, maka dengan pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia jang mulai empat tahun jang lalu, artinja Angkatan perang Republik Indonesia jang kuat, kita lantas menjatakan, bahwa perdjuangan untuk membebaskan Irian Barat tidak hanja kita dasarkan kepada alasan-alasan keadilan sadja,tetapi terutama sekali kepada alasan konfrontasi kekuatan, konfrontasi politikkita djalankan, kita menjusun kita punja kekuatan dilapangan politik, dilapangan ekonomi, dilapangan kekuatan sendjata. Maka dengan tjepat, dengan gesit kita memperkuat Angkatan Perang kita, Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Kepolisian Negara, sehingga mendjadi satu bentuk Angkatan perang jang sekuat-kuatnja.

Inilah, saudara-saudara, ditambah dengan aksi Trikora jang kita adakan mulai tanggal 19 Desember tahun 1961, achirnja, saudara-saudara, saudara melihat hasilnja, fihak Belanda bertekuk lutut, fihak Belanda akan menjerahkan Irian Barat kembali kepada kita melalui beberapa prosedure jang saudara-saudara telah ketahui.

Sekarang, saudara-saudara, prosedure itu sedang didjalankan. Insja Allah SubhanahuWata’ala, tanggal 1 Mei 1963 nanti seluruh Irian barat akan bernaung di bawah bendera Sang Merah putih , Bendera saka, bendera su sutjikita jang kita telah miliki beribu tahun. Insja Allah, bulan mei ’63 itu seluruh tanah air Republik indonesia sudah benar-benar kembali kedalam tangannja bangsa Indonesia sendiri. Dan sebagai sudah saja katakan pada tanggal 17 Agustus jang lalu, kita akan dapat mulai dengan pembangunan jang sehebat-hebatnja, jang tadinja untuk memperkuat Angkatan perang kita, untuk mendjalankan Trikora. Tiga-perempat daripada seluruh keuangan kita pergunakan untuk hal itu. Sesudah Irian Barat benar-benar dibawah kekuasaan Republik Indonesia, artinja di dalam lingkungan kekeluargaan bangsa Indonesia sendiri, maka beaja jang tiga perempat dari seluruh budget negara itu bisa kita kurangi dan sebagian besar bisa kita pergunakan untuk pembangunan, djuga pembangunan di Irian Barat.

Malahan kita sudah bertekad untuk membangun Irian Barat itu setjepat mungkin, agar supaja didalam waktu jang setjepatnja Irian Barat berdiri setaraf dengan bagian-bagian Indonesia jang lain-lain.

Sekarang kita menghadapi pertanjaan, apakah dengan kembalinja Irian Barat kepangkuan Ibu Pertiwi ini Angkatan perang Indonesia masih dibutuhkan?

Dengarkan, hai pemuda-pemuda, pradjurit-pradjurit, bintara-bintara, perwira-perwira: Ja, kita masih tetap membutuhkan Angkatan perang Republik Indonesia jang kuat. Maka oleh karena itu, saja menganjurkan, memerintahkan kepadamu sekalian, perkuat Angkatan Perangmu, perkuat segala kesatuan-kesatuanmu, perkuat batin didalam dadamu, perkuat agar supaja Republik Indonesia bisa mendjalankan tugas dan darma baktinja dengan segala kebaikannja. Djangan lupa, meskipun Irian Barat menurut prosedure sudah ditentukan akan kembali pada bulan Mei 1963 sama sekali di bawah kibaran bendera Sang merah putih, tetapi kita harus tetap waspada, tetap kita membuka kita punja mata, tetap kita harus siap-siaga tetap kita harus menggenggam kita punja sendjata didalam tangan kita ini, djangan kita lepaskan sedetikpun adanja.

Ketjuali itu, saudara-saudara, dunia sekarang ini adalah satu dunia pertentangan, dnia jang didalamnja perdjuangan menghantjur-leburkan kolonialisme dan imperialisme jang sedang berdjalan dengan sekuat-kuatnja, sehebat-hebatnja, sedahsjat-dahsjatnya. Maka berhubung dengan itu fihak imperalis, fihak kolonialis dari segala bangsa, masih tetap akan mentjoba mempertahankan dirinja. Malahan mengenai Republik Indonesia, ketahuilah, ada usaha-usaha untuk mengepung Republik Indonesia ini dari fihak imperialis. Maka oleh karena itu kita harus tetap berdiri diatas kekuatan bangsa Indonesia, tetap berdiri diatas kekuatan Angkatan perang Republik Indonesia, tetap berdiri diatas semangat rakjat Indonesia jang telah bersumpah: Sekali merdeka, Tetap merdeka. Tetap diatas sumpah kita, kita bermaksud mendirikan satu negara besar antara Sabang dan Merauke, satu negara jang tidak terpetjah-belah, satu negara kesatuan; tetap untuk berdiri mendjadi satu bangsa dengan tiada beda, tiada membuat perbedaan antara suku-suku bangsa, baik warna kuliynja bagaimanapun, antara Sabang dan Merauke; mendirikan satu masjarakat jang adil dan makmur jang memberi kebahagiaan kepada seluruh bangasa Indonesia, bahkan ingin sekali membantu, menjumbang kepada perdjuangan seluruh umat manusia didunia ini untuk membangun satu dunia baru jang didalamnja umat manusia mengalami satu hidup jang lebih lajak, lebih selamat, lebih bahagia daripada jang sudah-sudah.

Mengenai angkatan perang, dus dagorder saja: tetaplah waspada, tetaplah siap-siaga, tetaplah memperkuat engkau punja diri, tetaplah mensutjikan, menghebatkan, menggelorakan engkau punja semangat, agar supaja harapan daripada bangsa Indonesia ini tetap dapat dipelihara dan didjaga oleh Republik Indonesia, didjaga oleh Angkatan Perang Republik Indonesia.

 

Sekian perintah harian saja.

 

Sumber : Koleksi Perpustakaan Proklamator Bung Karno

Pustakawan dalam Layanan Rujukan, Antara Ensiklopedi dan Kamus

Pustakawan dalam Layanan Rujukan,

Antara Ensiklopedi dan Kamus

Hendriyanto, SIP.

Hendriyanto, SIP.

Hendriyanto, SIP

 Pustakawan Pertama

Perpustakaan Proklamator Bung Karno

 

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dewasa ini memiliki arti penting bagi lembaga yang bergerak di bidang informasi dan perpustakaan.  Perpustakaan merupakan salah satu lembaga informasi yang bertugas mengumpulkan, menyimpan, mengatur, dan menyebarkan informasi kepada masyarakat pemakainya (users).

Kalau dahulu perpustakaan identik dengan buku, sekarang sebagai wadah  informasi. Karena itu seorang pustakawan bergeser dari pelayan informasi menjadi  penyedia informasi (information provider).  Kesempatan ini sebenarnya peluang yang harus dijemput oleh pustakawan untuk lebih memaksimalkan dalam mencerdaskan masyarakat pemakai maupun mengambil hati kepada lembaga dalam mewujudkan layanan yang berbasis kepuasan pengguna.

Penyediaan informasi oleh pustakawan tersebut juga harus didukung bahan pustaka sebagai bahan rujukan/referensi untuk memberikan layanan informasi. Bahan rujukan tersebut di antaranya adalah kamus dan ensiklopedi yang keberadaannya di perpustakaan tidak boleh dipinjamkan untuk dibawa pulang. Sebab koleksi tersebut merupakan koleksi rujukan yang keberadaannya harus selalu ada di perpustakaan. Koleksi kamus dan ensiklopedi pada era teknologi informasi sekarang ini mempunyai tantangan yang cukup berat terutama dengan keberadaan internet. Karena kamus dan ensiklopedi online banyak dijumpai di internet yang bisa diakses secara mudah dan cepat oleh pemustaka.


Kamus

Menurut The Shorter Oxford English Dictionary, kamus adalah :

  1. Suatu buku yg memuat kosakata suatu bahasa, sedemikian rupa sehinga memberikan keterangan tentang ejaan, penyebutan, arti, penggunaan, sinonim, turunan, dan sejarah kata, atau paling tidak sebagian keterangan itu. Kosakata disusun dengan suatu cara yang sudah ditetapkan, bisanya menurut abjad.
  2. Suatu bentuk pengembangan dari kamus adalah bahan pustaka yang berisi informasi mengenai suatu subjek atau cabang ilmu pengetahuan tertentu, dimana istilah-istilah yang dijelaskan disusun menurut abjad. (kamus kedokteran, kamus statistik, dll)

 

Kamus = dictionary

Dari bahasa latin dictio = kata/frase

Pada zaman anglo-Saxon, -/+ abad ke-9 à pengumpulan kata-kata untuk membuat semacam kamus dalam bahasa inggris.

Kamus Pertama à A Table Alphabetical, kamus berbahasa inggris pertama diterbitkan Robert Cawdrey tahun 1604.

Tahun 1721 à Universal Etymological Dictionary karya Nathaniel Bailey

Tahun 1755 à Dictionary of the English Language karya Dr. Samuel Johnson

 

–          Fungsi Preskriptif Kamus à fungsi menetapkan arti standar dan penggunaan suatu kata shg orang kemudian menggunakan kata tsb sesuai dgn apa yg didefinisikan dlm kamus. (tujuan)

–          Fungsi Deskriptif Kamus à mengartikan suatu kata sesuai dgn pengertian  dan penggunaan yg berkembang  dan banyak diterapkan dlm masyarakat. (hasil)

 

Jenis Kamus

Ò  Kamus menurut isi

–          Kamus Umum à istilah umum sehari-hari

–          Kamus Khusus à kata2 umum dengan susunan ttt

–          Kamus Subjek à Subjek tertentu

 

Ò  Kamus dari jumlah bahasa

–          Kamus Ekabahasa

–          Kamus Dwibahasa

–          Kamus Anekabahasa

 

Ò  Kamus dari kelengkapannya

–          Kamus singkat

–          Kamus sedang

–          Kamus Lengkap

 

Penggunaan Kamus

  1. Sebagai Alat Rujukan Langsung (Cepat)
  2. Sebagai Standart Pembakuan Bahasa
  3. Sebagai Sarana Bantu untuk Pengkajian Bahasa

 

“Fenomena” Kamus vs pustakawan

–          Terbitnya Kamus Istilah Perpustakaan oleh Lasa Hs.

–          Koleksi kamus di sebagian besar perpustakaan hanya berisi kamus bahasa belum banyak mengoleksi kamus subjek.

–          Dalam era teknologi informasi sekarang banyak pemustaka yang lebih memilih mencari suatu istilah di internet daripada membuka kamus yang ada di perpustakaan.

Fenomana pertama menunjukkan bahwa kalangan pustakawan sudah mampu untuk membuat inovatif dalam rangka pengembangan profesi pustakawan itu sendiri. Karya nyata yang inovatif tersebut adalah sudah diterbitkannya kamus istilah ilmu perpuatakaan yang banyak menjadi acuan di dunia perpustakaan Indonesia. Akan tetapi belum banyak kalangan pustakawan yang mampu untuk menunjukkan karya nyata ini dan menerbitkan suatu karya tulis yang bisa mendukung pengembangan profesi. Keengganan pustakawan untuk ber-inovasi ini dapat diatasi dengan memberikan pembekalan maupun pendidikan tentang teknik penulisan.

Fenomena kedua bahwa koleksi kamus di sebagian besar perpustakaan hanya berisi kamus bahasa belum banyak mengoleksi kamus subjek, karena keterbatasan dana di rata-rata perpustakaan, terutama  perpustakaan sekolah. Hal ini dapat diatasi dengan memaksimalkan kajian pemakai agar bahan pustaka yang akan diadakan benar-benar dibutuhkan oleh pengguna sehingga pendanaan akan bisa diefisiensikan dan bisa dialokasikan guna pembelian bahan pustaka rujukan seperti kamus dan ensiklopedi yang tentunya pembeliannya juga didasarkan pada kebutuhan pengguna.

Fenomena ketiga menggambarkan bahwa pada era kemajuan teknologi pada dewasa ini, pemustaka banyak yang mencari dan menjadikan informasi yang ada di internet sebagai bahan rujukan yang utama dan cepat daripada pemustaka datang ke perpustakaan dan membuka kamus. Fenomena ini memang terjadi akan tetapi pemustaka yang ingin membuat karya ilmiah tetap menggunakan bahan rujukan fisik yang ada di perpustakaan. Menghadapi tantangan teknologi informasi ini perpustakaan harus menyediakan bahan rujukan (kamus dan ensiklopedi) yang lengkap dan update. Jika dilihat dari SDM pustakawannya pada bagian layanan referens ini juga harus pustakawan yang professional dan memiliki pengetahuan yang luas.

—————–

Ensiklopedi

Bahan Rujukan yg berisi informasi atau uraian ringkas namun mendasar tentang berbagai hal atau ilmu pegetahuan, yg biasanya disusun menurut abjad atau secara sistematis subjek tertentu.

Ensiklopedi berasal dari bahasa yunani yg berarti pendidikan dalam lingkungan seni budaya dan ilmu pengetahuan

 

Jenis Ensiklopedi

Ò  Ensiklopedi Umum Nasional

Ò  Ensiklopedi Khusus/Subjek

Ò  Ensiklopedi Internasional

 

Manfaat Ensiklopedi

  1. Sebagai sarana untuk mencari informasi dasar mengenai berbagai masalah;
  2. Sebagai sarana utama dalam langkah awal untuk melakukan suatu kajian mengenai suatu subjek;
  3. Sebagai sarana untuk memeriksa kebenaran suatu informasi;
  4. Sebagai jendela informasi dunia.

 

“Fenomena” ensiklopedi

–          Jarangnya kita temukan pustakawan membuat /menyusun ensiklopedi.

–          Mahalnya koleksi ensiklopedi, koleksi ensiklopedi biasanya tebal dan mahal oleh karena itu pembelian ensiklopedi harus berdasarkan kajian pemustaka agar ensiklopedi yang akan diadakan benar-benar sesuai.

–          Kesadaran Pembuat Keputusan dalam suatu lembaga akan arti penting bahan rujukan seperti ensiklopedi, banyak pimpinan lembaga/institusi tempat perpustakaan bernaung belum tahu akan arti penting koleksi-koleksi tersebut untuk kebutuhan pemustaka.

–          Kurangnya promosi penggunaan ensiklopedi, dalam hal ini metode display koleksi rujukan bisa dilakukan.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Indonesia. [Undang-Undang, Peraturan, dsb] Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan

Pranoto, Agus Sugio. 2005. Pameran Buku di Perpustakaan ITS. Surabaya: ITS

Sudarmini, Euis. Pemasaran Jasa Perpustakaan dan Informasi. Dalam Jurnal Perpustakaan Pertanian. X(1) 2002: 6-7

Sulistyo-Basuki, 1992. Teknik dan Jasa Dokumentasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Khasanah Buku Islam, Kekayaan dan Keragaman

Meniti Sejarah Menuju Kejayaan Islam

Meniti Sejarah Menuju Kejayaan Islam

 

 

 

Latar Belakang

Pada Saat saya memilih topic menarik ini yaitu Khasanah Penerbitan Buku Keislaman di Indonesia, bayangan saya langsung tertuju pada kisah cerita islami yaitu si azzam yang dibintangi oleh Agus Kuncoro, dan si Aya yang dibintangi oleh aktris cantik Zaskia Adya Mecca dalam sinetron besutan Deddy Mizwar yang berjudul “Para Pencari Tuhan” yang sering kita lihat terutama pada saat Bulan Suci Ramadhan, dalam sinetron ini mengisahkan bahwa si Azzam dan Aya mempunyai sebuah usaha bersama yaitu penerbitan buku-buku Islam, dan dari usaha inilah mereka dapat hidup sejahtera dan bahagia, dari kisah tersebut tidak bisa dipungkiri bahwa kemunculan penerbit Islam juga turut memperkaya khazanah intelektualitas khalayak Muslim di negeri ini. Sejarah kemunculan dan keberadaan penerbitan literatur Islam di negeri ini membuktikan semua itu. Di Indonesia, perkembangan literatur Islam mulai dirasakan sejak tahun 1970-an. Terkait dengan hal ini, Nurcholish Madjid memandangnya sebagai salah satu konsekuensi dari fenomena lahirnya kaum terpelajar (sarjana) dari kalangan Muslim santri.

Azyumardi Azra memaparkan gejala yang tampak jelas terjadinya pertumbuhan literatur Islam justru di awal 1980-an bahwa perkembangan yang terjadi tidak lepas dari pengaruh revolusi Iran tahun 1979 yang menimbulkan perhatian dan minat masyarakat terhadap Syiah dan cendekiawan Syiah, seperti Ali Syariati dan Syekh Syaid Nasir. Dari minat kepada kedua cendekia tersebut selanjutnya merambah kepada para pemikir Islam yang lainnya. Sementara kegairahan tengah berlangsung, di saat yang bersamaan kegairahan terhadap suasana keislaman pun tengah tumbuh subur di negeri ini. Suasana inilah yang mendorong lahirnya penerbit-penerbit buku Islam, seperti PT. Bulan Bintang, Gema Insani Press, Yayasan Paramadina, Logos Wacana Ilmu,  (yang berada di wilayah DKI Jakarta). Kemudian PT. Al-Ma’arif, CV. Pustaka Salman, PT. Mizan Pustaka, PT Sinar Baru Algensindo, PT. Pustaka Hidayah, PT. Syaamil Cipta Media, PT Mutiara Qalbun Salim (MQS), (yang berada di Wilayah Bandung), serta PT Tiara Wacana Yogya, PT. LKiS Pelangi Aksara, PT Pustaka Pelajar, CV. Qalam, CV. Navila, PT. Ircisod, Ar-Ruzz Media, Pustaka Sufi, Pustaka Anisah, (yang berada di DIY dan Jawa Tengah

Pengertian

Merujuk ke uraian Ignas Kleden tentang penerbit dan penerbitan buku (Taryadi, 1999:92) dalam (Abdullah Fajar, 2006:8), diperoleh pengertian bahwa penerbitan buku adalah seni dan ilmu tentang membuat dan mendistribusikan buku, yang mencakup perjalanan sebuah naskah dari saat mengambil ujud di pikiran pengarang hingga mencapai public dalam bentuk buku. Penerbitan berurusan dengan fungsi-fungsi mereka yang bekerja untuk menciptakan naskah, percetakan serta distribusi buku. Pribadi atau institusi yang merencanakan, mengkoordinasi pekerjaan yang berhubungan dengan berbagai aspek yang berbeda-beda dari usaha itu – penulisan, editing, ilustrasi, percetakan, penjilidan, penggudangan, penjualan, dan pembiayaan pada tahap-tahap yang berbeda selama waktu satu tahun atau lebih – disebut penerbit. Bertitik tolak dari pengertian diatas maka, penerbit buku islam adalah institusi yang mempromotori terwujudnya buku-buku menganai Islam dalam aspeknya yang luas, serta kemudian menyebarluaskannya ke masyarakat pembaca. Dalam perkembangannya, penerbitan menjelma menjadi sebuah industri, karenanya institusi penerbitan buku mengambil bentuk perseroan dagang seperti PT (Perseroan Terbatas) ataupun CV., dalam hal ini, penerbit buku Islam pun telah mengambil bentuk usaha dagang.

Penerbitan di Indonesia

Buku-buku Islam yang diterbitkan di Indonesia tahun 1970-an dan 1980-an tentu memiliki perbedaan. Dari segi tampilan, misalnya, jika buku-buku bertemakan Islam periode 1970-an tampak bercorak klasik, menggunakan kertas koran dan tampilan yang cenderung kurang menarik, terbitan setelah 1980-an tampil berbeda. Buku- buku yang diterbitkan tampak lebih maju, baik dari segi substansi kandungannya, gaya penyajian, maupun artistiknya. Pada periode inilah muncul beberapa penulis muslim lokal, seperti Nurcholish Madjid, M Amien Rais, AM Saefuddin, Jalaluddin Rakhmat, Kuntowijoyo, Harun Nasution, M Dawam Rahardjo, dan M Quraish Shihab.

Haidar Bagir, Direktur Utama PT Mizan Publika, mengatakan bahwa kegairahan baru masyarakat terhadap agama yang dimanifestasikan terhadap buku-buku keagamaan sebenarnya bukan merupakan persoalan baru. Bahkan, menurut Bagir, fenomena ini tidak hanya terjadi pada kalangan Muslim, tetapi sudah menjadi gejala umum. Tahun 1974, misalnya, Alvin Toffler menerbitkan buku yang menjelaskan kegairahan baru orang Amerika terhadap agama, dengan munculnya lebih dari 1.000 paguyuban kultus-kultus.

Di Indonesia, selain munculnya kalangan intelektual santri yang memacu pertumbuhan buku-buku bertemakan Islam, terdapat pula kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat kelas menengah akan makanan rohani. Dari sisi ekonomi, bisa jadi kalangan ini sudah mampu mencapai kemakmuran. Namun, kebahagiaan tampaknya belum melekat sepenuhnya. Kalangan demikian tampaknya mengalami gejala kekosongan spiritual, seperti yang dialami masyarakat negara maju. Ini menjadi salah satu penyebab konsumen terbesar buku-buku Islam berasal dari kalangan menengah yang mengalami kegairahan baru terhadap agama.

Jika dirunut, sejak periode 1980-an peningkatan jumlah penerbitan buku-buku Islam terjadi pada hampir semua disiplin keilmuan, seperti Al Quran dan Hadis, syariah dan fikih, ibadah, kalam dan teologi, tasawuf, pendidikan Islam, sejarah dan biografi, sosial budaya dan pembangunan, politik Islam, ekonomi dan bisnis, kesehatan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesenian, dan sebagainya. Namun, melihat kecenderungan buku-buku Islam terlaris, setidaknya dalam dua bidang, yaitu fikih dan tasawuf. (Kompas, 15 November 2003). Menjawab kenyataan ini, Azyumardi mengatakan, banyak kalangan yang memerlukan “kepastian”, terutama dalam dua hal, yaitu: pertama dalam bidang hukum (syariah atau fikih); kedua, dalam bidang batin atau eksoterisme Islam. Fikih dapat memberikan ketenangan kepada Muslim bahwa ia hidup sesuai dengan hukum Allah dan tasawuf memberikan kedamaian dan kesejukan batin. Terlebih, situasi ekonomi sosial dan politik di era reformasi semakin tidak menentu, yang menimbulkan kegelisahan dan ketidakpastian hingga orang mencari kepastian lewat agama. Tidak mengherankan jika kemudian buku-buku tasawuf dan fikih sangat digemari masyarakat.

Dalam buku berjudul Khasanah Islam Indonesia yang ditulis oleh Abdullah Fadjar, dkk menyebutkan bahwa sekuarang-kurangnya dari sekitar 1000 judul buku yang meliputi aneka ragam tema kehidupan, peneliti membuat sejumlah penggolongan besar untuk keperluan penyusunan monografi . Penggolongan ini dalam berbagai hal berbeda dari yang dilakukan para penerbit yang dikunjungi. Adapun penggolongan tersebut adalah :

  1. Buku Doktrin Islam dan pengamalannya, dalam mencari buku-buku ini sangatlah mudah, baik ditoko buku besar maupun kecil, gaya penyajian dalam buku ini pun sangat beragam.
  2. Buku Islam Kajian Ilmu Sosial – Humaniora, dalam perpustakaan kita sering membaca buku-buku yang ditulis oleh Prof. Dr. A. Mukti Ali, beliau mengutarakan bahwa perlunya ilmu-ilmu social juga melakukan kegiatan-kegiatan riset masalah keagamaan.
  3. Buku Islam Kajian Sains, contoh. Buku berjudul Keruntuhan Teori Evolusi karya Harun Yahya yang meruntuhkan teori Darwin adalah salah satu contoh buku tentang Islam Kajian Sains.
  4. Buku Pemikiran Islam, buku-buku tentang pemikiran Islam karya H. Agus Salim, STA, sampai dengan A. Syafii Maarif mewarnai daripada khasanah buku-buku tetang Pemikiran Islam Ini.
  5. Buku Islam Sufistik atau Esoterik, contoh dari buku ini adalah buku berjudul Dunia Rumi : Hidup dan Karya Penyair Besar Sufi (2002) yang diterbitkan oleh Pustaka Sufi.
  6. Buku Islam Kajian Wanita dan Gender, buku-buku Islam Agama Ramah Perempuan – Lkis, Argumen Kesetaraan Gender : Perspektif Al-Quran – Paramadina, dll adalah contoh buku-buku tentang hal ini.
  7. Buku Riwayat Islam (tentang kisah, tokoh, dan biografi), sangat banyak buku-buku riwayat Islam mengenai tokoh-tokoh dan biografi, mengingat banyak orang yang bisa dijadikan teladan.
  8. Buku Islam untuk Anak dan Remaja, buku-buku berjudul 10 Kiat mempersiapkan Anak Prasekolah Berpuasa – Ery Soekresno, Oni dan Semut Hitam – Sigit Widiantoro, dll merupakan contoh-contoh buku untuk segmentasi anak dan remaja.
  9. Buku Fiksi Islam, beberapa buku fiksi terkenal Layar terkembang karya STA, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, dll

Masih terkait dengan kategorisasi isi, menurut Azyumardi, secara umum penerbitan buku Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menekankan pada Islam murni berdasarkan Al Quran dan sunah atau yang biasa disebut sebagai Islam Salafis dan Harakah serta kelompok yang bergerak pada wacana atau diskursus, yang kadang disebut sebagai Islam kritis. (Kompas, 15 November 2003)

Pluralisme wacana tampak terlihat jelas dari beberapa penerbit Islam yang sudah lama berdiri di Indonesia, seperti Mizan dan Gema Insani Press (GIP). Di awal 1980-an, misalnya, Mizan menerjemahkan karya-karya dari beberapa pemikir Islam, seperti Hassan Hanafi, Ashgar Ali Engineer, dan Hussein Nasr. Bahkan, Mizan memperkenalkan pemikiran Ali Syari’ati yang fenomenal sebagai arsitek revolusi Islam di Iran. Ali merupakan sosiolog lulusan Perancis yang menyodorkan konsep-konsep perubahan sosial politik pada masa Syah Iran Reza Pahlevi. Pemikiran perubahan sosial yang dilakukan Penerbit Mizan ini diakui pula Haidar Bagir. Bahkan, sejak tahun 2002 Mizan gencar mengeluarkan seri Filsafat Islam yang mengemukakan pemikiran para filsuf Muslim.

Demikian halnya dengan Penerbit Lembaga Kajian Ilmu Sosial (LKiS). Sejak tahun 1993 penerbit yang bermukim di Yogyakarta ini mencoba menyebarkan gagasan pemikiran Islam “kritis”. Direktur LKiS Ahmad Fikri menyebut dengan istilah wacana kiri Islam, Ahmad Fikri mengatakan “bahwa dalam Islam ada spirit tentang teologi pembebasan juga spirit penghormatan pada pluralisme,”. (Kompas, 15 November 2003).

Dinamika kemunculan beberapa penerbitan Islam di awal reformasi menjadi perhatian dari kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL). Menurut Nong Darol Mahmada, Koordinator JIL, sejak tahun 2001 mereka telah menerbitkan 4 judul buku. Misi JIL adalah melahirkan kembali wacana keislaman yang pluralis, sebagai sanggahan terhadap gerakan Islam keras setelah era Reformasi. Bagi JIL sangat penting untuk mengembangkan pemikiran Islam moderat.

Penerbitan buku merupakan salah satu media untuk mengembangkan wacana yang mereka bangun, dalam hal ini mereka mencoba memberikan alternatif pemikiran Islam dari yang sudah ada. Tema besar yang diusung JIL, yaitu emansipasi perempuan, hak minoritas, politik Islam, kebebasan berekspresi, dan teologi negara sekuler untuk mengantar syariat Islam. Berbeda dengan penerbit di atas, Gema Insani Press (GIP), penerbitan Islam yang mengalami perkembangan usaha tergolong pesat, lebih menekankan kepada Islam yang murni dalam segenap isi buku-buku terbitannya. Ada beragam produk yang diterbitkan GIP. Dari kategori syariah dan ibadah, misalnya, buku-buku terkait dengan pedoman dan tuntunan shalat, puasa, umrah dan haji, hingga doa dan zikir diterbitkan. Sementara GIP pun menerbitkan pula kategori buku-buku akhlak, politik dan ekonomi Islam, biografi tokoh-tokoh Islam, hingga buku-buku karya para pemikir Islam, seperti Amien Rais dan Didin Hafidhuddin.

Sistem Jaringan dan Promosi Peredaran Buku-buku

Ketika buku-buku tersebut selesai diproduksi oleh penerbit, maka untuk sampai ketangan pembaca perlu sistem dan jaringan-jaringan yang ada agar karya tulis Islam tersebut bisa dinikmati, masih dalam buku karya Abdullah Fadjar, dkk. (2006 : 86), sistem dan jaringan tersebut adalah :

  1. Pameran Buku Islam, kegiatan ini merupakan sebuah medium yang dalam pandangan para penerbit dianggap penting dan strategis. Penerbit-penerbit yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) membentuk sebuah Kelompok Kerja (Pokja) Penerbit Buku Agama Islam.Salah satu prakarsa yang diambil olej Pokja itu ialah menyelenggarakan kegiatan Islamic Book Fair.
  1. Peluncuran dan Bedah Buku, Peluncuran Buku Islam bagi sejumlah penerbit, (sering pemrakarsanya penulisnya sendiri), merupakan event penting bahkan dipandang prestisius. Sistem mensosialisasikan buku dengan “launching model” banyak ditempuh oleh beberapa penerbit.
  1. Iklan, Rehal, dan Resensi, Surat kabar dan majalah menjadi media yang lazim digunakan untuk mensosialisasikan kehadiran buku-buku baru dari berbagai penerbit. Di surat kabar atau majalah dapat kita temukan tiga kolom atau rubrik iklan, rehat dan resensi.
  1. Saluran Distribusi, Sistem distribusi harus dibuat secara efektif agar penjualan buku-buku tersebut berjalan dengan lancar. Toko buku disini merupakan organisasi yang penting, selain menjual toko buku diharapkan juga memajang buku, mengumumkan buku baru dalam bentuk pamphlet.
  1. Komunitas Buku, Rumah Baca, dan Perpustakaan, Perpustakaan menjadi jaringan yang sangat penting untuk menyebarkan buku-buku Islam yang sudah diterbitkan agar bisa dinikmati oleh pembaca baik perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, dan perpustakaan masjid.

Penutup

Keragaman dalam fokus kajian buku-buku Islam merupakan hal biasa, seperti juga yang terjadi di negara-negara lain yang berpenduduk Islam mayoritas. Perbedaan pandangan bukan berarti pengotak-ngotakkan, dalam masyarakat pluralistik, seperti Indonesia, semua pandangan menjadi penting untuk mengadopsi perbedaan yang ada. Keragaman wacana akan memperkaya pemikiran yang berkembang di Indonesia. Perkembangan yang ada justru mengisyaratkan semakin terbukanya wacana Islam Indonesia.

Dalam  buku berjudul Khasanah Islam di Indonesia karya Abdullah Fadjar, dkk., terdapat beberapa kesimpulan terkait penerbitan buku di Indonesia, kesimpulan pertama adalah bahwa riset monografi penerbit buku Islam pertama-tama telah membawa ke dunia gambaran mengenai bagaimana usaha umat Islam Indonesia mengelola gagasan dan kegiatan memfiksasi, mendokumentasi dan mendisfusikan warisan-warisan kebudayaan dan peradaban Islam dalam wujud buku : sebuah artefak budaya yang memiliki nilai cultural dan nilai bisnis sekaligus. Kesimpulan kedua, riset monografi penerbit buku Islam telah mengantarkan kita  ke “jelajah kebudayaan dan peradaban Islam” yang demikian kaya, dengan spectrum yang begitu luas. Kesimpulan yang ketiga, bahwa riset monografi penerbit buku Islam telah membawa ke dunia gambaran mengenai proses pembudayaan Islam serta hasil-hasilnya di Indonesia.

Daftar Pustaka

Abdullah Fadjar. Khasanah Islam Indonesia. Jakarta: The Habibie Center, 2006.

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0311/15/pustaka/688310.htm Sabtu, 15 November 2003

“Harus Inovatif!”, Wawancara dengan Drs. Ir. Poerwanto P., MA., (Founder & Chairman, Soekarno Study Center Jakarta)

Wawancara dengan Drs. Ir. Poerwanto P., MA.

Wawancara dengan Drs. Ir. Poerwanto P., MA.

 

Poerwanto, selain sebagai salah seorang konseptor pendirian Perpustakaan Bung Karno, beliau adalah juga seorang Sarjana Nuklir pertama lulusan ITB Bandung yang sering berjumpa dengan Bung Karno pada masa mudanya, Poerwanto saat ini mendirikan dan menjadi pimpinan dari Pusat Studi Bung Karno, berikut petikan wawancara dengan Hendriyanto, SIP. untuk mengisahkan suka-duka pembangunan dan pengembangan Perpustakaan Proklamator Bung Karno ke depan.

 

Sebagai salah seorang konseptor pembangunan Perpustakaan Proklamator Bung Karno, dapatkah Anda ceritakan apa yang menjadi ide dasar pendirian perpustakaan ini?

Ide dasar itu bermula kira-kira 10 tahun yang lalu dengan perwakilan dari Pemkot Blitar. Saya katakan ketika itu, kita (Kota Blitar, Red) ini ada modal sebuah “makam emas yang masih tertutup debu”. Maksud saya, Kota Blitar ini punya Makam Bung Karno, setelah dibuat representatif, tetapi masih belum ada wadah sebagai museum yang dapat mengenalkan masyarakat terhadap figur Bung Karno, tidak hanya sosoknya; tetapi juga pemikirannya yang brilian. Coba saja Anda ke negara-negara lain. Ambil contoh Perancis dengan Napoleon Bonaparte-nya; dan Vietnam dengan Ho Chin Mi-nya. Berdasarkan itu, kita mengambil gagasan untuk mendirikan museum; perpustakaan; dan pusat studi, yang kemudian dijadikan dalam satu kompleks yang sekarang dikenal sebagai Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Semua itu diramu dalam satu ikon, yang diwakilkan melalui didirikannya Patung Bung Karno yang sedang membaca buku. Maksudnya adalah dari segala macam yang berhubungan dengan Bung Karno, jika ingin menyerap ilmu; gagasan; dan konsep yang dimilikinya, ya harus berkunjung ke perpustakaan ini. Karena, di dalamnya terdapat banyak hal atau koleksi yang memang berhubungan dengan proklamator ini.

 

Apakah ada hambatan di dalam proses pembangunannya?

Hambatan pasti ada. Dan ini yang menjadi seni di dalam proses pembangunan Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Dari kesulitan untuk mencari lokasi pendirian hingga alokasi dananya. Bahkan, hingga telah didapatkan lokasi yang tepat dan hibah lahan yang sedemikian besar, masih saja mengalami kendala. Bentuknya, adanya sejumlah orang yang tidak mau pindah dari rumah yang masuk ke dalam rencana pembangunan perpustakaan ini.

Tetapi, untunglah, dengan adanya pendekatan yang tepat, dan seiring dengan perjalanan waktu, kita dapat melihat Perpustakaan Proklamator Bung Karno yang utuh sesuai dengan yang telah direncanakan, seperti saat ini. Semua itu tidak lepas dari usaha kita bersama yang memang memiliki kepedulian terhadap masalah ini.

Dan sebagai bentuk penghargaan kepada mereka yang dulu pernah tinggal di tanah yang didirikan perpustakaan ini, mereka kita undang satu malam sebelum diresmikannya, untuk mengetahui sendiri seperti apa pengorbanan mereka demi terwujudnya sebuah cita-cita mulia ini; dan mencatatkan nama mereka dalam prasasti yang saat ini dipasang di salah satu sudut perpustakaan.

 

Bagaimana Anda memandang Perpustakaan Proklamator Bung Karno, apakah perpustakaan ini merupakan perpustakaan proklamator atau perpustakaan kepresidenan?

Satu yang pasti, perpustakaan ini adalah perpustakaan khusus. Tetapi, jika ditanyakan apakah perpustakaan ini perpustakaan proklamator atau perpustakaan kepresidenan, saya akan menjawab keduanya. Ini tidak lepas dari figur Bung Karno yang tidak hanya sebagai salah seorang Presiden Republik Indonesia, tetapi juga seorang proklamator.

Dan dikatakan khusus, karena di dalam perpustakaan ini benar-benar mengakomodasi segala sesuatu yang berkaitan dengan ide; gagasan; konsep; dan ilmu yang berkaitan dengan figur Bung Karno. Bukan hanya itu, melalui museumnya, di sini juga tersimpan sejumlah memorabilia Bung Karno itu sendiri.

 

Dapatkan Anda memberikan masukan tentang cara untuk melengkapi koleksi tentang Bung Karno, agar dapat tersimpan di dalam perpustakaan ini?

Pengelola Perpustakaan Proklamator Bung Karno ini harus kreatif dan inovatif. Juga harus membangun jejaring dengan banyak kalangan yang dipandang dapat membantu upaya melengkapi koleksi Bung Karno ini. Tidak hanya yang di dalam negeri, tetapi yang di luar negeri juga harus dilakukan. Contoh nyata adalah banyaknya foto Bung Karno dengan para pemimpin negara di dunia ini yang masih tersimpan di masing-masing negara. Jika memungkinkan, dengan jejaring yang ada, Perpustakaan Proklamator Bung Karno dapat memiliki sejumlah foto tersebut dengan cara merepro, misalnya. Karena itulah, memperluas jejaring dengan pelbagai kalangan menjadi sesuatu yang perlu untuk dilakukan di dalam upaya melengkapi koleksi Bung Karno, yang saat ini mungkin saja dapat dikatakan sudah langka dan sulit untuk didapatkan. Tetapi, jika dengan usaha yang keras dan jejaring yang tepat, hal itu tidak akan menjadi masalah.

 

Bagaimana dengan upaya pengembangan karakter, apa yang harus dilakukan pengelola Perpustakaan Bung Karno?

Ada kehausan dari para pemuda kita saat ini untuk mencari siapa pemimpin kita sebenarnya. Karena mereka lahir di era-era yang terpaut jauh dari Bung Karno, sehingga sejarah Indonesia ada yang kosong. Bahan bacaan pun tidak murah. Tragisnya, para pemuda tidak lagi memiliki minat baca, terutama berkaitan dengan sejarah. Padahal, dari sanalah mereka dapat mengenal sosok pemimpin yang sedang mereka cari itu, seperti Bung Karno. Di sinilah peran Perpustakaan Proklamator Bung Karno untuk membangkitkan semangat kebangsaan dan kecintaan terhadap tanah air. Tentu saja tidak dapat dilakukan secara sendirian, perlu adanya kerja sama dengan orang-orang yang melestarikan ajaran Bung Karno; praktisi pendidikan; lembaga-lembaga yang berkecimpung dengan sejarah; lembaga-lembaga pendidikan; dan para guru. Inilah salah satu upaya untuk melakukan pembangunan karakter dan jati diri, sesuai dengan amanat “founding fathers” kita.

 

Apakah masih ada cara lain?

Perpustakaan Proklamator Bung Karno memiliki koleksi yang banyak, termasuk mengenai tokoh-tokoh dunia. Kami sedang melakukan program visa studi. Tujuannya adalah mengenalkan Indonesia; mengenalkan tokoh-tokoh nasional; sekaligus mengenalkan Perpustakaan Proklamator Bung Karno sendiri. Sasarannya adalah para pelajar dan mahasiswa yang berasal dari luar negeri. Mereka akan kami ajak membaca dan belajar di Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Dan pengelola perpustakaan, haruslah dapat menjadi tuan rumah yang baik. Hal ini agar dapat memberikan kesan yang baik bagi mereka, untuk kemudian dapat singgah dan belajar kembali di perpustakaan ini pada masa-masa mendatang.

Pada sisi lain, pengelola Perpustakaan Proklamator Bung Karno harus kreatif dan inovatif. Buatlah banyak kegiatan yang disesuaikan dengan sasarannya yang berdasarkan pada pemanfaatan koleksi yang ada di dalam perpustakaan ini. Bahkan, jika perlu, agar Perpustakaan Proklamator Bung Karno benar-benar dapat dijadikan pusat studi, ya undanglah penyelenggaraan olimpiade sains yang bekerja sama dengan instansi yang terkait dengan menggunakan fasilitas milik Perpustakaan Proklamator Bung Karno ini.

 

Terakhir, apa yang akan Anda sampaikan berkaitan dengan pengembangan Perpustakaan Proklamator Bung Karno ini?

Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan pengelola Perpustakaan Proklamator Bung Karno di dalam pengembangan perpustakaan ini. Tetapi, syaratnya, ya itu tadi, harus kreatif; inovatif; dan memperluas jejaring. Juga harus banyak melakukan kegiatan yang dapat menyentuh masyarakat agar mau beraktivitas di dalam perpustakaan ini di dalam kerangka melestarikan ajaran Bung Karno; menanamkan semangat nasionalisme; dan pembangunan karakter serta jati diri bangsa.

Pada sisi lain, pengelola Perpustakaan Proklamator Bung Karno juga harus melengkapi koleksinya dengan tokoh-tokoh dunia, agar dapat menjadi bahan pelajaran bagi para pemustaka yang ada di sini. Dari sini, para pemustaka dapat menyerap ilmu; ide; gagasan; konsep; dan ajaran para tokoh dunia, termasuk Bung Karno, hingga sisi-sisi manusiawi dan kekontroversialan mereka.

“Pendirian Perpustakaan Kepresidenan Tetap Harus Menjadi Tanggungan Negara”, Paul Permadi (Mantan Deputi dan Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional RI)

Wawancara dengan Paul Permadi, Mantan Deputi dan Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional RI

Wawancara dengan Paul Permadi, Mantan Deputi dan Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional RI

Paul Permadi, mantan Deputi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) ini juga menjadi salah satu penggagas pendirian Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Berikut  petikan wawancara dengan Hendriyanto, SIP. untuk menceritakan awal mula sejarah dan gagasan ke depan tentang pengembangan Perpustakaan Bung Karno:

Sebagai salah satu penggagas ide besar tentang pendirian Perpustakaan Bung Karno, apa yang melatarbelakangi gagasan dan ide tersebut?

Orang itu tidak dapat lepas dari konteks hidup. Saya dulu di Madiun tinggal di rumah kakak yang menjadi basis Partai Nasional Indonesia (PNI). Sehingga, saya dikelilingi oleh markas PNI, contohnya di kala daerah saya menjadi tuan rumah kegiatan PNI, saya yang ketika itu menjadi mahasiswa banyak mendengarkan para pembesar partai berbicara, misalnya Roeslan Abdul Gani; Ali Sastroamijoyo; Muhammad Isnaini; dan lain-lain.

Karena rumah kakak saya merupakan markas PNI, maka saya banyak dipengaruhi oleh PNI. Lalu, sewaktu saya sekolah dasar (SD), bapak saya sering menceritakan bahwa Bung Karno itu tokoh besar dan luar biasa. Jika Bung Karno itu datang, pastilah memakai sepatu dan baju yang bersaku empat, pakai topi dan berjalan-jalan menyapa rakyatnya.

Ayah saya juga bercerita tentang PNI; dan bibi saya adalah anggota DPR wanita pertama dari PNI. Itu juga yang memperkuat perkenalan saya dengan sosok Bung Karno. Dan itu masih didukung dengan banyaknya buku tentang Bung Karno di sekitar saya, terutama tentang Pancasila. Itulah yang melatarbelakangi apa yang saya sampaikan dengan konteks hidup itu tadi.

Ajaibnya, ketika saya bekerja di PNRI, saya ditempatkan di pusat pembinaan. Dari sana saya mengenal istilah presidential library. Jadi, dari segi perkembangan kejiwaan karena kecil di Blitar dan bapak saya adalah pengagum serta pemuja Bung Karno, serta berpadu dengan posisi saya di tempat kerja, kemudian saya berpikir: apa tidak ada perpustakaan yang super special library tentang Bung Karno?

Saya menganggap presidential library adalah  super special library.  Dan karena ketika itu saya masih Deputi PNRI, saya kemudian berpendapat bahwa dapat saja Bung Karno dibuatkan sebuah presidential library, terlebih dasarnya kan kuat: Bung Karno adalah proklamator, salah seorang founding father Indonesia. Dan kemudian ide itu saya “jual” ke DPR, juga didiskusikan dengan Djarot Saiful Hidayat, Wali Kota Blitar saat itu. Alhamdulillah, seperti gayung bersambut; gagasan ini mendapat respon yang baik.

Cerita dari sang penggagas, Paul Permadi

Ada kendala dalam perwujudan ide dan gagasan tersebut?

Kendala waktu itu terkait lokasi. Seperti yang diketahui, Perpustakaan Bung Karno sempat akan ditempatkan di bekas Kantor Kecamatan Kepanjenkidul; lalu gedung PGSD; hingga akhirnya ada hibah dari Pamoe Rahardjo, mantan ajudan Bung Karno, berkaitan dengan sebidang lahan di dekat Makam Bung Karno. Hingga akhirnya, Perpustakaan Bung Karno dapat berdiri dengan megah di lokasinya yang sekarang ini berada.

Ide dasar Perpustakaan Bung Karno itu apakah perpustakaan kepresidenan atau perpustakaan proklamator?

Presidential Library. Dalam ceramah saya tentang presidential library di seratus tahun Bung Karno, saya sebutkan bahwa di Amerika Serikat, yang mendirikan perpustakaan kepresidenan adalah pihak keluarga. Itu karena Amerika Serikat adalah negara kaya. Tetapi, di Indonesia, dana untuk pendirian perpustakaan kepresidenan tetap harus menjadi tanggungan negara; bukan pihak keluarga.

Tentang koleksi yang ada di Perpustakaan Bung Karno?

Tetap harus dikejar koleksi khusus tentang Bung Karno, itu utamanya; tetapi jangan lupa generasi muda dan masyarakat umum yang membutuhkan koleksi-koleksi umum, itu juga penting dan tetap dilayani.

Trik untuk menambah koleksi Bung Karno?

Pertemuan di antara center-center Bung Karno; juga jaringan lembaga/yayasan yang bergerak/bersubyek tentang Bung Karno; dan dikumpulkan, baik itu yang ada di Jakarta; Bengkulu; Surabaya; atau pun dari pulau Bali, diajak berdiskusi tentang apa itu konspektus atau pun kekuatan koleksi masing-masing. Kemudian dibuatkan katalog induk/jaringan, baik secara katalog digital maupun manual.

Selanjutnya, Perpustakaan Bung Karno harus menerbitkan kumpulan katalog induk itu, juga menjadikan Perpustakaan Bung Karno sebagai pusat jaringan tersebut. Dengan kata lain, Perpustakaan Bung Karno yang memegang kendali untuk itu. Menurut saya, koleksi tentang Bung Karno itu banyak, tetapi belum dapat ditemukan secara keseluruhan oleh pengelola Perpustakaan Bung Karno.

Harapan Anda yang belum tercapai di Perpustakaan Bung Karno?

Pengelola Perpustakaan Bung Karno belum melaksanakan dan membuat executive summary untuk disampaikan kepada decision makers. Jadi, sekecil apa pun, menurut pendapat saya, harus ada yang namanya selective dissemination of information  tentang Bung Karno. Untuk itu, Perpustakaan Bung Karno harus memiliki beberapa orang yang menekuni secara khusus tentang perpustakaan dan Bung Karno itu sendiri.

Kemudian disarikan, misalnya Bung Karno dalam bidang ekonomi. Pengelola Perpustakaan Bung Karno harus menyarikannya dan kirim ke Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Sajikanlah teori atau pun ajaran Bung Karno tentang ekonomi itu.

Itu kan dapat Perpustakaan Bung Karno produksi sendiri informasi kilat atau selective dissemination of information tentang Bung Karno atau executive summary untuk dikirimkan kepada mereka-mereka yang menjadi penentu kebijakan, seperti DPR RI.

======

Biodata Singkat

Nama : Drs. Paul Permadi, S.IP.

TTL : Blitar, 16 Juni 1942

Pendidikan
1. TK dan SR Santa Maria, Blitar
2. SMP Johannes Gabriel dan Taman Siswa, Blitar
3. SGA Saint Bernandus, Madiun
4. Universitas Katolik Widya Mandala (Sarjana Muda dan S1)
5. Universitas Indonesia (S1)

Organisasi
1. Sekretaris Senat Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala (1963-1964)
2. Sekretaris IPI DKI Jakarta (1992-1995)
3. Sekretaris Jenderal PP IPI (1995-1998)
4. Ketua I PP IPI (1998-2006)
5. Dewan Pembina PP IPI (2006-2009)

Pekerjaan
1. Koordinator Teknis Katalogisasi dan Klasifikasi Perpusnas RI
2. Kepala Pusat Jasa Perpustakaan Perpusnas RI
3. Deputi I (Pengembangan Bahan Pustaka & Layanan Informasi) Perpusnas RI
4. Pustakawan Utama Perpusnas RI

Istri : Dra. Maria Theresia Ludong, Apt.

Anak :
1. Dr. Ir. Alexander Ludi Epifanijanto
2. Dr. Blasius Lofi Dewanto

“Perpustakaan itu jalan sepi, berliku, dan mendaki”, Wawancara dengan Blasius Sudarsono, MLS (Pustakawan Utama di PDII-LIPI)

Blasius Sudarsono, MLS (Foto diambil oleh Hendriyanto)

Blasius Sudarsono bukanlah sosok yang asing di telinga para pustakawan Indonesia, kiprahnya dalam dunia perpustakaan sudah tidak diragukan lagi, pak Dar panggilan akrab beliau, di sela-sela kunjungannya ke Perpustakaan Bung Karno Blitar menyempatkan diri untuk berbagi pengalaman dan memberikan pandangannya kedepan terkait kemajuan Perpustakaan Proklamator Bung Karno seperti yang dikisahkan kepada Drs. Hartono, SS., M.Hum., dan Hendriyanto, SIP., adapun petikan wawancaranya sebagai berikut :

Motivasi anda berprofesi sebagai pustakawan?

Kebetulan saya ini ingin belajar, dan kebetulan yang menerima saya itu lembaga ilmu pengetahuan, itu kan organisasi elite di Indonesia dan tugasnya kan belajar, kalau dulu saya itu ingin jadi fisikawan, dengan saya di lembaga itu saya akan tahu lebih dahulu, terus saya menjadi pustakawan ditempat itu, tapi saya boleh mengatakan bahwa perpustakaan itu bukan ilmu tetapi adalah art atau seni. Waktu itu kan saya harus menyiapkan computer untuk perpustakaan dan itu the first di Indonesia, itulah ada kebanggaan, saya bangga karena orang-orang kan taunya saya di lembaga Ilmu Pengetahuan, terus juga merencanakan untuk studi ke luar negeri, terus memulai computer pertama di bidang perpustakaan, sehingga ada kebanggan, tetapi saya juga mengkritisi tentang perpustakaan, saya pada waktu itu tidak percaya perpustakaan itu suatu ilmu, dan sewaktu saya harus mengambil magister di luar negeri, saya memilih sekolah yang tidak menyebut dirinya ilmu perpustakaan jadi saya tidak memilih library science tapi saya memilih library studies jadi studi perpustakaan, makanya lebih banyak membahas masalah-masalah computer dan sebagainya.

Pada waktu itu sejauh mana tuntutan teknologi informasi terhadap perpustakaan?

Masih banyak yang menolak, mereka bilang computer itu gak perlu untuk perpustakaan atau belum perlu, waktu itu kami, PDIN sebagai lokomotif teknologi informasi di perpustakaan, dan brain PDIN adalah International Brand, tetapi ya itu, perpustakaan itu “jalan sepi, berliku dan mendaki”.

Tentang Jaringan Informasi Perpustakaan?

Itu yang merintis Ibu Winarti Partaningrat beliau direktur pertama PDIN (Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional), dan Jaringan Informasi itu terjadi tahun 1971, dan sepakat dengan adanya empat jaringan, jadi disamping Perpustakaan Nasional itu ada empat pusat nasional yang dikoordinasikan oleh Perpustakaan Nasional, tetapi jaringan itu kemudian tidak berbekas.

Bagaimana anda melihat Perpustakaan Proklamator Bung Karno?

Perpustakaan Proklamator Bung Karno ide awalnya kan perpustakaan khusus, tentang Bung Karno dan ajaran-ajarannya, tetapi jika sekarang Perpustakaan Proklamator Bung Karno menginginkan sebagai perpustakaan penelitian ya memang benar juga, dan harusnya konsep itulah yang segera dipikirkan karena perpustakaan penelitian itu bisa ada di perpustakaan khusus, perpustakaan umum dan di perpustakaan perguruang tinggi, dan Perpustakaan Proklamator Bung Karno saya yakin mampu.

Untuk memadai Intelektual Masayarakat, apa memungkinkan dibentuk pusat studi, pusat kajian tentang Bung Karno di Perpustakaan Proklamator Bung Karno?

Yang sekarang penting untuk dipersiapkan adalah manusianya terlebih dahulu, manusianya ini mau gak jadi peneliti, mau gak menekuni pekerjaan-pekerjaan di perpustakaan yang saya bilang tadi sepi, berliku dan mendaki, dan penuh dengan pencarian dan penantian, rintangan dan harapan. Dalam perang itu, tidak harus setiap pertempuran itu menang, tetapi pertempuran terakhir harus menang, kan yang penting menang perang bukan menang pertempuran. Nah, kembali lagi pada manusianya, manusianya itu cerdas atau tidak, nah marilah kita belajar.

Segi Infrastruktur atau fasilitas informasi yang harus disiapkan dalam rangka membangun sebuah pusat kajian atau pusat studi tentang Bung Karno di Perpustakaan Proklamator Bung Karno?

Informasi itu ada dimana-mana, anda akses internet saja banyak, proquest dan e-journal yang lain itu kan juga belum dimaksimalkan di Perpustakaan Proklamator Bung Karno, nah itu bisa dimaksimalkan.

Terkait dengan “Riset Library” di Perpustakaan Proklamator Bung Karno?

Karakter riset library ini yang harus kita cari, yang tua-tua ini kan hanya membimbing, anak-anak mudalah yang menemukan, karena kedepan itu adalah keputusan kamu anak muda, seperti di dalam buku yang pernah saya tulis, beri kebebasan pemuda berpikir, dan beri kebebasan mereka menentukan pendapat untuk masa depan, termasuk merancang masa depan.

Dari segi SDM di Perpustakaan Proklamator Bung Karno untuk mempersiapkan Riset Library?

Kalau sekarang ini lebih baik meng-identifikasi yang ada untuk diberi tugas, jangan dulu merekrut baru yang belum punya rasa terhadap lembaga, jadi menata itu dari bawah, dan kalau orang baru langsung direkrut untuk tugas itu bisa ditolak oleh pegawai yang lama.

========

Profil singkat

Nama                    : Blasius Sudarsono, MLS.

Lahir                     : Solo, 02 Februari 1948

Pendidikan         :

– Sarjana Muda Fisika (B.Sc.), FIPA – UGM, Yogyakarta, 1973

– Master of Library Studies (MLS), University of Hawaii, Honolulu, USA, 1979

Pengalaman Kerja

1970 – 1973 Asisten Laboratorium Fisika Dasar UGM.

1973 – 1976 Staf Urusan Servis Teknis PDIN

1976 – 1977 Kepala Urusan Servis Pembaca PDIN

1978 – 1979 Menyelesaikan MLS di Unversity of Hawaii, Honolulu, USA

1979 – 1980 Kepala Urusan Servis Teknis PDIN

1980 – 1987 Kepala Pusat Perpustakaan PDIN

1987 – 1990 Kepala Bidang Sarana Teknis PDII-LIPI

1990 – 2001 Kepala PDII-LIPI

2001 – 2005 Pustakawan Madya PDII-LIPI

2005 – sekarang Pustakawan Utama PDII-LIPI

1980 – sekarang Pengajar tidak tetap pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

2002 – sekarang Pengajar tidak tetap pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pajajaran.