Beranda » Ilmu Perpustakaan » “Pendirian Perpustakaan Kepresidenan Tetap Harus Menjadi Tanggungan Negara”, Paul Permadi (Mantan Deputi dan Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional RI)

“Pendirian Perpustakaan Kepresidenan Tetap Harus Menjadi Tanggungan Negara”, Paul Permadi (Mantan Deputi dan Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional RI)

Wawancara dengan Paul Permadi, Mantan Deputi dan Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional RI

Wawancara dengan Paul Permadi, Mantan Deputi dan Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional RI

Paul Permadi, mantan Deputi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) ini juga menjadi salah satu penggagas pendirian Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Berikut  petikan wawancara dengan Hendriyanto, SIP. untuk menceritakan awal mula sejarah dan gagasan ke depan tentang pengembangan Perpustakaan Bung Karno:

Sebagai salah satu penggagas ide besar tentang pendirian Perpustakaan Bung Karno, apa yang melatarbelakangi gagasan dan ide tersebut?

Orang itu tidak dapat lepas dari konteks hidup. Saya dulu di Madiun tinggal di rumah kakak yang menjadi basis Partai Nasional Indonesia (PNI). Sehingga, saya dikelilingi oleh markas PNI, contohnya di kala daerah saya menjadi tuan rumah kegiatan PNI, saya yang ketika itu menjadi mahasiswa banyak mendengarkan para pembesar partai berbicara, misalnya Roeslan Abdul Gani; Ali Sastroamijoyo; Muhammad Isnaini; dan lain-lain.

Karena rumah kakak saya merupakan markas PNI, maka saya banyak dipengaruhi oleh PNI. Lalu, sewaktu saya sekolah dasar (SD), bapak saya sering menceritakan bahwa Bung Karno itu tokoh besar dan luar biasa. Jika Bung Karno itu datang, pastilah memakai sepatu dan baju yang bersaku empat, pakai topi dan berjalan-jalan menyapa rakyatnya.

Ayah saya juga bercerita tentang PNI; dan bibi saya adalah anggota DPR wanita pertama dari PNI. Itu juga yang memperkuat perkenalan saya dengan sosok Bung Karno. Dan itu masih didukung dengan banyaknya buku tentang Bung Karno di sekitar saya, terutama tentang Pancasila. Itulah yang melatarbelakangi apa yang saya sampaikan dengan konteks hidup itu tadi.

Ajaibnya, ketika saya bekerja di PNRI, saya ditempatkan di pusat pembinaan. Dari sana saya mengenal istilah presidential library. Jadi, dari segi perkembangan kejiwaan karena kecil di Blitar dan bapak saya adalah pengagum serta pemuja Bung Karno, serta berpadu dengan posisi saya di tempat kerja, kemudian saya berpikir: apa tidak ada perpustakaan yang super special library tentang Bung Karno?

Saya menganggap presidential library adalah  super special library.  Dan karena ketika itu saya masih Deputi PNRI, saya kemudian berpendapat bahwa dapat saja Bung Karno dibuatkan sebuah presidential library, terlebih dasarnya kan kuat: Bung Karno adalah proklamator, salah seorang founding father Indonesia. Dan kemudian ide itu saya “jual” ke DPR, juga didiskusikan dengan Djarot Saiful Hidayat, Wali Kota Blitar saat itu. Alhamdulillah, seperti gayung bersambut; gagasan ini mendapat respon yang baik.

Cerita dari sang penggagas, Paul Permadi

Ada kendala dalam perwujudan ide dan gagasan tersebut?

Kendala waktu itu terkait lokasi. Seperti yang diketahui, Perpustakaan Bung Karno sempat akan ditempatkan di bekas Kantor Kecamatan Kepanjenkidul; lalu gedung PGSD; hingga akhirnya ada hibah dari Pamoe Rahardjo, mantan ajudan Bung Karno, berkaitan dengan sebidang lahan di dekat Makam Bung Karno. Hingga akhirnya, Perpustakaan Bung Karno dapat berdiri dengan megah di lokasinya yang sekarang ini berada.

Ide dasar Perpustakaan Bung Karno itu apakah perpustakaan kepresidenan atau perpustakaan proklamator?

Presidential Library. Dalam ceramah saya tentang presidential library di seratus tahun Bung Karno, saya sebutkan bahwa di Amerika Serikat, yang mendirikan perpustakaan kepresidenan adalah pihak keluarga. Itu karena Amerika Serikat adalah negara kaya. Tetapi, di Indonesia, dana untuk pendirian perpustakaan kepresidenan tetap harus menjadi tanggungan negara; bukan pihak keluarga.

Tentang koleksi yang ada di Perpustakaan Bung Karno?

Tetap harus dikejar koleksi khusus tentang Bung Karno, itu utamanya; tetapi jangan lupa generasi muda dan masyarakat umum yang membutuhkan koleksi-koleksi umum, itu juga penting dan tetap dilayani.

Trik untuk menambah koleksi Bung Karno?

Pertemuan di antara center-center Bung Karno; juga jaringan lembaga/yayasan yang bergerak/bersubyek tentang Bung Karno; dan dikumpulkan, baik itu yang ada di Jakarta; Bengkulu; Surabaya; atau pun dari pulau Bali, diajak berdiskusi tentang apa itu konspektus atau pun kekuatan koleksi masing-masing. Kemudian dibuatkan katalog induk/jaringan, baik secara katalog digital maupun manual.

Selanjutnya, Perpustakaan Bung Karno harus menerbitkan kumpulan katalog induk itu, juga menjadikan Perpustakaan Bung Karno sebagai pusat jaringan tersebut. Dengan kata lain, Perpustakaan Bung Karno yang memegang kendali untuk itu. Menurut saya, koleksi tentang Bung Karno itu banyak, tetapi belum dapat ditemukan secara keseluruhan oleh pengelola Perpustakaan Bung Karno.

Harapan Anda yang belum tercapai di Perpustakaan Bung Karno?

Pengelola Perpustakaan Bung Karno belum melaksanakan dan membuat executive summary untuk disampaikan kepada decision makers. Jadi, sekecil apa pun, menurut pendapat saya, harus ada yang namanya selective dissemination of information  tentang Bung Karno. Untuk itu, Perpustakaan Bung Karno harus memiliki beberapa orang yang menekuni secara khusus tentang perpustakaan dan Bung Karno itu sendiri.

Kemudian disarikan, misalnya Bung Karno dalam bidang ekonomi. Pengelola Perpustakaan Bung Karno harus menyarikannya dan kirim ke Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Sajikanlah teori atau pun ajaran Bung Karno tentang ekonomi itu.

Itu kan dapat Perpustakaan Bung Karno produksi sendiri informasi kilat atau selective dissemination of information tentang Bung Karno atau executive summary untuk dikirimkan kepada mereka-mereka yang menjadi penentu kebijakan, seperti DPR RI.

======

Biodata Singkat

Nama : Drs. Paul Permadi, S.IP.

TTL : Blitar, 16 Juni 1942

Pendidikan
1. TK dan SR Santa Maria, Blitar
2. SMP Johannes Gabriel dan Taman Siswa, Blitar
3. SGA Saint Bernandus, Madiun
4. Universitas Katolik Widya Mandala (Sarjana Muda dan S1)
5. Universitas Indonesia (S1)

Organisasi
1. Sekretaris Senat Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala (1963-1964)
2. Sekretaris IPI DKI Jakarta (1992-1995)
3. Sekretaris Jenderal PP IPI (1995-1998)
4. Ketua I PP IPI (1998-2006)
5. Dewan Pembina PP IPI (2006-2009)

Pekerjaan
1. Koordinator Teknis Katalogisasi dan Klasifikasi Perpusnas RI
2. Kepala Pusat Jasa Perpustakaan Perpusnas RI
3. Deputi I (Pengembangan Bahan Pustaka & Layanan Informasi) Perpusnas RI
4. Pustakawan Utama Perpusnas RI

Istri : Dra. Maria Theresia Ludong, Apt.

Anak :
1. Dr. Ir. Alexander Ludi Epifanijanto
2. Dr. Blasius Lofi Dewanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: