Beranda » Tentang Bung Karno » Isilah seluruh kalbumu dengan rasa kebanggaan nasional!

Isilah seluruh kalbumu dengan rasa kebanggaan nasional!

Isilah seluruh kalbumu dengan rasa kebanggaan nasional!

Amanat Presiden Sukarno pada upatjara pemberian tanda-kehormatan kepada Regu Thomas Cup Indonesia di Istana Negara, Djakarta, pada tanggal 28 Mei 1964

Ir. Soekarno

Ir. Soekarno

 

Saudara-saudara sekalian,

Beberapa saat jang lalu saudara-saudara menjaksikan penjematan—katakanlah dengan kata mudah – bintang-bintang kepada saudara-saudara, anak-anak kita jang telah mempertahankan Thomas Cup ditangan kita, dan mempertahankan nama bangsa Indonesia dan Republik Indonesia.

Tatkala saja mendapat laporan bahwa regu Indonesia berhasil untuk mempertahankan Thomas cup itu dalam milik kita, maka pada waktu itu sebagai saudara-saudara barangkali membatja disurat-surat kabar, saja mengadjukan tiga pertanjaan. Pertanjaan kepada pelapor, jaitu regu kita menang dalam pertandingan di Tokyo berhadapan dengan harimau-harimau, pahlawan-pahlawan pertandingan badminton dari negeri lain itu, karena apa? Apakah karena keunggulnja taktik bertempur daripada regu kita? Dan jang saja maksudkan taktik bertempur regu kita ialah, mula-mula regu kita itu, jah, seperti alon-alon asal kelakon, tetapi kemudian pada saat-saat jang achir, baru mereka menundjukkan kebantengannja, mungkin satu taktik didalam satu pertempuran dilapangan olah raga. Saudara-saudara barangkali mengetahui, bahwa misalnja djikalau ada pertandingan lari tjepat, sesuatu orang mula-mula kalmpjes aan” dia selalu ketinggalan di belakang, kalmpjes aan” maksudnja ialah untuk buat dia sendiri tidak membuang tenaga terlalu banjak, tetapi buat musuh supaja musuh itu kehabisan tenaga. Kemudian pada saat jang terachir dia mengeluarkan segenap dia-punja tenaga, tenaga lari tjepat sehingga achirnja dialah jang lebih dahulu mentjapai garis achir. Itu mungkin satu taktik.

Pertanjaan kedua ialah, apakah regu kita itu menang, oleh karena itu regu kita mati-matian didalam semangatnja, didalam kemauannja untuk menang, jaitu jang didalam semangatnja, didalam kemauannja untuk menang, jaitu jang didalam bahasa Inggeris dinamakan “sheer will, sheer will to win”, kemauan jang keras untuk menang?

Ketiga, kemenangan regu kita itu apakah karunia Allah SWT? Jang saja sebutkan didalam pembitjaraan kepada pelapor itu “the hand of God”.

Tiga kemungkinan ini saja kemukakan, menangnja regu kita mungkin karena lihainja taktik regu kita, jaitu mula-mula alon-alon asal kelakon, tetapi pada saat jang terachir menundjukkan kebantengannja, jang luar biasa. Atau karena kerasnja kemauan, “sheer wiill to win”, atau “the hand of God”.

Saudara-saudara telah membatja disurat-surat kabar, bahwa saja-punja pendapat ialah bahwa “the Hand of God” berlaku. Sebagaimana didalam Revolusi kita selalu unggul boleh kita katakan, selalu unggul oleh karena kita selalu diridhoi oleh Tuhan. Selalu “the Hand of God” membantu kepada kita.

Didalam Revolusi kita itu kita mengalami beberapa saat jang boleh dikatakan, kita sudah hampir ambles, hampir binasa, hampir hantjur lebur, entoch kita menang, en touch pada sesuatu saat jang terachir kita mentjapai apa jang kita perdjoangkan. Dan selalu didalam saat-saat jang demikian itu, saja berpendapat “the hand of God” telah bekerdja.

Dan didalam hal regu Thomas Cup kita mentjapai kemenangan berhadapan dengan—sebagai kukatakan tadi – harimau-harimau, pahlawan-pahlawan olahraga dari negara asing, dalam hal itupun saja berkejakinan bahwa “the Hand of God” telah bekerdja. Tetapi apakah itu berarti bahwa dus faktor jang kedua atau faktor jang kedua atau faktor jang pertama tidak berlaku? Djikalau kita mentjapai kemenangan di Tokyo itu karena pertolongan Tuhan – dan demikian halnya—djikalau di Tokyo itu “the hand of God” telah bekerdja, apa itu arti bahwa dus regu kita tidak menundjukkan taktik bertempur jang unggul? Atau regu kita tidak menundjukkan “ sheer will to win” jang sehebat-hebatnja?

Saudara-saudara, “the Hand of God” telah berdjalan, telah bekerdja oleh karena itu kita menundjukkan “sheer will to win”, “sheer will to win” diatas dasar jang sutji, bukan “ sheerwill to win” dengan tjara jang litjik. Tetapi “sheer will to win” atas dasar jang sutji, “sheer will to win” bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk keagungan tanah-air kita, untuk keagungan bangsa kita, untuk keagungan revolusi kita, untuk keagungan tjita-tjita kita, “sheer will to win” untuk djaga nama bangsa Indonesia ini tetap tinggi dipandangan chalajak internasional.

Demikian pula kita telah mendjalankan taktik pertempuran jang sebaik-baiknja. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, meskipun saja mengambil konklusi, sebagaimana selalu saja mengambil demikian, jaitu bahwa “the Hand of God” telah bekerdja, saja mengambil konklusi demikian itu ialah oleh karena saja pertjaja bahwa tiada sesuatu kedjadian besar didunia ini terdjadi tanpa “ the Hand of God”. Meskipun saja berkesimpulan, bahwa didalam pertandingan Thomas Cup di Tokyo itu “the Hand of God” membantu kita, itu tidak berarti bahwa kita tidak menundjukkan “sheer will” jang sehebat-hebatnja, menundjukkan taktik pertempuran jang segemilang-gemilangnja.

Apalagi djikalau kita mengenal pemuda-pemuda jang berdiri dibelakang saja sekarang ini, mereka satu persatu adalah pahlawan. Mereka satu-persatu adalah pemuda-pemuda dengan jang dadanja, djiwanja, rohnja, kalbunja, berkobar-kobar dengan “sheer will” untuk mengangungkan tanah-air dan bangsa.

Tatkala beberapa tahun jang lalu, Saudara-saudara, saja buat pertama kali memberi restu kepada regu Thoamas Cup Indonesia, pada waktu mereka akan berangkat kepertandingan Thomas Cup, pertama kali saja memberi restu kepada mereka itu saja sudah mengatakan kepada mereka, bahwa kita dalam tiap-tiap pekerdjaan besar, tiap-tiap perdjoangan harus mengisi dada kita ini dengan apa jang saja namakan dedication of life. Dedication of life. Hanja dicakalau kita mempunjainja, melaksanakan dedication of life didalam dada kita , hanja djikalau demikianlah kita bisa bekerdja mati-matian membasahi bumi ini dengan tetesan-tetesan keringat kita. Hanja djikalau kita-punja djiwa adalah djiwa jang menjala-njala, berkobar-kobar dengan dedication of life, kita bisa membasahi bumi ini dengan darah kita, Saudara-saudara. Hanja djikalau kita benar-benar didalam kalbu kita menjala-njala, berkobar-kobar dengan devotion, pengabdian, dedication of life, maka kita bisa memobilisir tiap-tiap urat sjaraf didalam badan kita ini untuk bekerdja dan berdjoang.

Oleh karena itu maka pada saat saja memberi restu kepada regu Thomas Cup pertama kali saja telah berkata, hai, anak-anakku, kau pergilah kepertandingan Thomas cup itu. Aku tidak bisa memberi bekal kepadamu daripada restuku dan daripada permintaan kepadamu, supaja engkau sekalian dedicate engkau-punja hidup itu kepada sesuatu hal jang luhur dan sutji.

Saja pada waktu itu mentjeritakan, didalam pergerakan kita, didalam perdjoangan kita ini, kita telah mengalami beribu-ribu, berpuluh-puluh ribu pemuda-pemuda, pemudi-pemudi, Rakjat kita mengorbankan diri. Ada jang naik tiang penggantungan, ada jang meringkuk didalam pendjara berpuluh-puluh tahun. Ada jang dibuang ke Boven Digul, ada jang mati dirawa-rawanja Boven Digul.

Apa sebab mereka naik tiang penggantungan dengan muka jang bersenjum? Apa sebab mereka meringkuk didalam pendjara djuga dengan muka jang tersenjum, bertahun-tahun? Apa sebab mereka pergi ke Boven Digul, rimba-raja jang tiada batas kesunjian dan kebiadabannja, djuga dengan muka jang berseri-seri? Apa sebab mereka di Boven Digul menghembuskan nafas jang penghabisan, kadang-kadang dengan utjapan, hai selamat tinggal kawan-kawan, teruskanlah perdjoeangan ini, djikalau mereka tidak mempunjai dedication of life didalam djiwanja.

Maka oleh karena itu saja tekankan kepada regu Thomas Cup tempo-hari itu, korbankanlah dedication of your life kepada tjita-tjita agung, membesarkan nama bangsa kita,  membesarkan nama negara kita, membesarkan nama Indonesia.

Beberapa minggu jang lalu, Saudara-saudara, ada seorang penulis, penulis Amerika menaja kepada saja: Presiden Sukarno, apakah jang telah Tuan berikan kepada bangsa Tuan? Aku mendjawab, aku tidak memberikan barang jang besar kepada bangsaku, aku hanja menjumbang barang jang ketjil-ketjil kepada bangsaku, aku adalah orang yang dha’if, dha’if itu artinya ketjil. Aku bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin jang lain-lain memberikan barang-barang jang ketjil kepada bangsa Indonesia.

Wartawan Amerika itu mendjawab, no, no, Mr. President , Tuan ada memberikan satu hal kepada bangsa Indonesia, jang dengan satu hal itu bangsa Indonesia bisa mendjadi satu bangsa jang besar. Saja tanja, what is it, apa, satu hal jang aku berikan kepada bangsa Indonesia, jang dengan itu bangsa Indonesia bisa mendjadi satu bangsa jang besar? Penulis Amerika itu mendjawab, you have given your people the feeling of national pride. Tuan telah memberikan kepada bangsa Tuan rasa kebanggaan nasional, you have given to your people the feeling of national pride.

Sesudah ia berkata demikian, saudara-saudara, memang, aku telah didalam sedjarah manusia

Ini, sedjarah semua bangsa, dan aku melihat dari sedjarah semua bangsa itu, baik bangsa kulit putih, maupun bangsa kulit kuning, maupun bangsa kulit hitam, maupun bangsa jang berdiam diutara, maupun bangsa jang berdiam diselatan, maupun bangsa jang berdiam dibarat, maupun bangsa jang berdiam di timur, bahwa bangsa bangsa-bangsa itu djikalau pernah mengalami satu keagungan, ialah oleh karena pada saat-saat itu mereka mempunjai national pride.

Tiongkok dulu mempunjai sedjarah besar, oleh karena dulu – sekarang djuga—rakjat Tiongkok mempunjai national pride. Perantjis dulu mempunjai sedjarah besar, oleh karena mereka mempunjai national pride. Bangsa Italia dulu mempunjai sedjarah jang besar, oleh karena mereka mempunjai national pride. Bangsa Rus mempunjai sedjarah jang besar, berbuat perbuatan jang besar, oleh karena pada waktu itu mereka mempunjai national pride.

Bangsa Kmer, jaitujang sekarang terkenal berdiam di Kambodja, bangsa Kmer itu, Saudara-saudara, dulu mempunjai nama jang Agung dan mendjalankan perbuatan Agung, oleh karena mereka mempunjai national pride. Pada waktu itu mereka boleh dikatakan melebarkan dia-punja dada. Kami adalah bangsa Kmer”. Dan dengan rasa jang demikian itu, kami adalah bangsa kmer, mereka telah menjebarkan kebudajaan bukan sadja di, apa jang sekarang dinamakan Kambodja, tetapi sampai djuga ketanah-air kita ini, jaitu kebudajaan jang terkenal dengan kebudajaan “warman”, “ aditiawarman” , “purnawarman”, dan lain-lain sebagainja.

Dulu, saudara-saudara, kita mengenal keagungan India dibawah pemerintah Chandra Goptha. Apa candra Goptha punja djasa jang terbesar kepada bangsa India? Djasa Candra Goptha jang terbesar buat bangsa India ialah, bahwa ia berkata kepada bangsa India, India adalah pusat daripada kebudajaan. Engkau harus merasakan keagungan bangsamu itu.

Apa sebab bangsa jang berdiam dikanan-kirinja sungai Euprata dan Tigris didjaman purbakala dapat membangun kultur jang setinggi-tingginja? Samapai tanah-tanah sekeliling sungai Eupratha dan Tigris itu didalam kitab indjil dikatakan “ het land van melk en honig”, negeri jang melimpah dengan air susu dan madu, ialah oleh karena pada saat itu mereka mempunjai national pride. Radja Nebukadnezar sendiri berkata, aku adalah dari bangsa ini. Aku, by the grace of Ahura Mazda, karena karunia daripada Ahura Mazda, I am the King of Kings, aku adalah maharadja daripada sekalian radja, dan aku adalah anggota daripada bangsa jang berdiam dikanan-kiri sungai ini. Aku memerintahkan air sungai air ini mengalir dipadang-padang. Artinja, Nebukadnezar telah memerintahkan air dari sungai Euphrata dan Trigis untuk mengirigeer tanah-tanah tandus, sehingga negerinja mendjadi satu negeri air susu dan madu. Dan apa sebab Nebukadnezar, Nabukuduzur bisa mengerahkan rakjatnya, dan rakjatnja suka bekerdja membuat gili-gili dan membuat bendungan-bendungan didalam sungai-sungai hebat seperti Euphata dan Tigris, ialah oleh karena bangsa itu pada waktu itu mempunjai national pride. We are people of Babilon, kami adalah bangsa Babilonia.

Maka oleh karena itu, Saudara-saudara, pada saat saja harus memberi djawaban atas pertanjaan, apa sebab regu Thomas Cup menang, disamping aku mendjawab “the Hand of aku minta mereka itu dedicate mereka punja hidup –, aku selalu mentjoba memberi national pride kepada tiap-tiap orang Indonesia jang aku harap daripadanja membanting tulang untuk tanah-air dan bangsanja.

Inilah Saudara-saudara, kekagumanku kepada mereka, bahwa mereka benar-benar dedicate mereka-punja life untuk mengagungkan nama Indonesia, dedicate mereka-punja life untuk mengabdi kepada Tuhan. Tidakkah Ferry Sonneville sendiri tadi telah berkata : karena karunia Tuhan Jang Maha Esa; jang selama pertandingan itu nama Tuhan Jang Maha Esa ini  ini diatas bibir daripada pemuda-pemuda jang berdiri dibelakangku ini. Mereka dengan itu, semuanja boleh dikatakan pahlawan Indonesia. Terimakasih, Pahlawan Indonesia! Nah, karena itupun saja sebagai presiden, sebagai Bapak daripada Rakjat Indonesia ini telah memberi tanda-tanda kehormatan kepada mereka itu.

Kita mengadakan revolusi ini buat apa, Saudara-saudara? Berulang-ulang sudah kukatakan, kita mengadakan Revolusi ini untuk memenuhi Amanat Penderitaan Rakjat. Lihat unsur jang pertama daripada Amanat Penderitaan Rakjat itu, ingin hidup didalam satu negara jang merdeka, ingin hidup sebagai satu bangsa jang merdeka. Satu bangsa jang tidak mempunjai national pride, tidak akan mempunjai kerangka pertama daripada Revolusinja. Sesuatu bangsa jang Revolusinja berkerangka jang pertama, ingin hidup sebagai satu bangsa jang merdeka, jang berdaulat penuh, tersusun didalam satu Republik kesatuan jang berwilajah kekuasaan antara Sabang dan merauke, bangsa jang mempunjai kerangka jang demikian itu ialah bangsa jang ber-national pride. Bangsa jang tidak mempunjai nasional pride, tidak akan mempunjai kerangka revolusi sebagai kerangka pertama Revolusi kita.

Karena itu, saudara-saudara, onward, no retreat!

Dalam pada orang Amerika itu berkata, bahwa hal jang aku berikan kepada bangsa Indonesia ialah terutama sekali “the feeling of national pride”, dalam hal menerima itu saja teruskan pesanku kepada bangsa Indonesia. Hai, bangsa Indonesia, isilah seluruh, segenap kalbumu dengan rasa, feeling of national pride itu. Hanja djikalau engkau dadamu penuh dengan rasa “feeling of national pride”, engkau akan bisa menjusun masjarakat jang adil dan makmur, engkau akan bisa mendjadi mertjusuar daripada “the revolution of mankind”, jaitu revolusi jang hendak mengadakan dunia baru tanpa exploitation  de I’homme par I’homme.

Anak-anakku jang berdiri dibelakangku, sekali lagi terimakasih. Moga- moga Tuhan memberkatimu semuanja.

Terimakasih.

 

Sumber : Koleksi Perpustakaan Proklamator Bung Karno


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: