Beranda » Ilmu Perpustakaan » Khasanah Buku Islam, Kekayaan dan Keragaman

Khasanah Buku Islam, Kekayaan dan Keragaman

Meniti Sejarah Menuju Kejayaan Islam

Meniti Sejarah Menuju Kejayaan Islam

 

 

 

Latar Belakang

Pada Saat saya memilih topic menarik ini yaitu Khasanah Penerbitan Buku Keislaman di Indonesia, bayangan saya langsung tertuju pada kisah cerita islami yaitu si azzam yang dibintangi oleh Agus Kuncoro, dan si Aya yang dibintangi oleh aktris cantik Zaskia Adya Mecca dalam sinetron besutan Deddy Mizwar yang berjudul “Para Pencari Tuhan” yang sering kita lihat terutama pada saat Bulan Suci Ramadhan, dalam sinetron ini mengisahkan bahwa si Azzam dan Aya mempunyai sebuah usaha bersama yaitu penerbitan buku-buku Islam, dan dari usaha inilah mereka dapat hidup sejahtera dan bahagia, dari kisah tersebut tidak bisa dipungkiri bahwa kemunculan penerbit Islam juga turut memperkaya khazanah intelektualitas khalayak Muslim di negeri ini. Sejarah kemunculan dan keberadaan penerbitan literatur Islam di negeri ini membuktikan semua itu. Di Indonesia, perkembangan literatur Islam mulai dirasakan sejak tahun 1970-an. Terkait dengan hal ini, Nurcholish Madjid memandangnya sebagai salah satu konsekuensi dari fenomena lahirnya kaum terpelajar (sarjana) dari kalangan Muslim santri.

Azyumardi Azra memaparkan gejala yang tampak jelas terjadinya pertumbuhan literatur Islam justru di awal 1980-an bahwa perkembangan yang terjadi tidak lepas dari pengaruh revolusi Iran tahun 1979 yang menimbulkan perhatian dan minat masyarakat terhadap Syiah dan cendekiawan Syiah, seperti Ali Syariati dan Syekh Syaid Nasir. Dari minat kepada kedua cendekia tersebut selanjutnya merambah kepada para pemikir Islam yang lainnya. Sementara kegairahan tengah berlangsung, di saat yang bersamaan kegairahan terhadap suasana keislaman pun tengah tumbuh subur di negeri ini. Suasana inilah yang mendorong lahirnya penerbit-penerbit buku Islam, seperti PT. Bulan Bintang, Gema Insani Press, Yayasan Paramadina, Logos Wacana Ilmu,  (yang berada di wilayah DKI Jakarta). Kemudian PT. Al-Ma’arif, CV. Pustaka Salman, PT. Mizan Pustaka, PT Sinar Baru Algensindo, PT. Pustaka Hidayah, PT. Syaamil Cipta Media, PT Mutiara Qalbun Salim (MQS), (yang berada di Wilayah Bandung), serta PT Tiara Wacana Yogya, PT. LKiS Pelangi Aksara, PT Pustaka Pelajar, CV. Qalam, CV. Navila, PT. Ircisod, Ar-Ruzz Media, Pustaka Sufi, Pustaka Anisah, (yang berada di DIY dan Jawa Tengah

Pengertian

Merujuk ke uraian Ignas Kleden tentang penerbit dan penerbitan buku (Taryadi, 1999:92) dalam (Abdullah Fajar, 2006:8), diperoleh pengertian bahwa penerbitan buku adalah seni dan ilmu tentang membuat dan mendistribusikan buku, yang mencakup perjalanan sebuah naskah dari saat mengambil ujud di pikiran pengarang hingga mencapai public dalam bentuk buku. Penerbitan berurusan dengan fungsi-fungsi mereka yang bekerja untuk menciptakan naskah, percetakan serta distribusi buku. Pribadi atau institusi yang merencanakan, mengkoordinasi pekerjaan yang berhubungan dengan berbagai aspek yang berbeda-beda dari usaha itu – penulisan, editing, ilustrasi, percetakan, penjilidan, penggudangan, penjualan, dan pembiayaan pada tahap-tahap yang berbeda selama waktu satu tahun atau lebih – disebut penerbit. Bertitik tolak dari pengertian diatas maka, penerbit buku islam adalah institusi yang mempromotori terwujudnya buku-buku menganai Islam dalam aspeknya yang luas, serta kemudian menyebarluaskannya ke masyarakat pembaca. Dalam perkembangannya, penerbitan menjelma menjadi sebuah industri, karenanya institusi penerbitan buku mengambil bentuk perseroan dagang seperti PT (Perseroan Terbatas) ataupun CV., dalam hal ini, penerbit buku Islam pun telah mengambil bentuk usaha dagang.

Penerbitan di Indonesia

Buku-buku Islam yang diterbitkan di Indonesia tahun 1970-an dan 1980-an tentu memiliki perbedaan. Dari segi tampilan, misalnya, jika buku-buku bertemakan Islam periode 1970-an tampak bercorak klasik, menggunakan kertas koran dan tampilan yang cenderung kurang menarik, terbitan setelah 1980-an tampil berbeda. Buku- buku yang diterbitkan tampak lebih maju, baik dari segi substansi kandungannya, gaya penyajian, maupun artistiknya. Pada periode inilah muncul beberapa penulis muslim lokal, seperti Nurcholish Madjid, M Amien Rais, AM Saefuddin, Jalaluddin Rakhmat, Kuntowijoyo, Harun Nasution, M Dawam Rahardjo, dan M Quraish Shihab.

Haidar Bagir, Direktur Utama PT Mizan Publika, mengatakan bahwa kegairahan baru masyarakat terhadap agama yang dimanifestasikan terhadap buku-buku keagamaan sebenarnya bukan merupakan persoalan baru. Bahkan, menurut Bagir, fenomena ini tidak hanya terjadi pada kalangan Muslim, tetapi sudah menjadi gejala umum. Tahun 1974, misalnya, Alvin Toffler menerbitkan buku yang menjelaskan kegairahan baru orang Amerika terhadap agama, dengan munculnya lebih dari 1.000 paguyuban kultus-kultus.

Di Indonesia, selain munculnya kalangan intelektual santri yang memacu pertumbuhan buku-buku bertemakan Islam, terdapat pula kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat kelas menengah akan makanan rohani. Dari sisi ekonomi, bisa jadi kalangan ini sudah mampu mencapai kemakmuran. Namun, kebahagiaan tampaknya belum melekat sepenuhnya. Kalangan demikian tampaknya mengalami gejala kekosongan spiritual, seperti yang dialami masyarakat negara maju. Ini menjadi salah satu penyebab konsumen terbesar buku-buku Islam berasal dari kalangan menengah yang mengalami kegairahan baru terhadap agama.

Jika dirunut, sejak periode 1980-an peningkatan jumlah penerbitan buku-buku Islam terjadi pada hampir semua disiplin keilmuan, seperti Al Quran dan Hadis, syariah dan fikih, ibadah, kalam dan teologi, tasawuf, pendidikan Islam, sejarah dan biografi, sosial budaya dan pembangunan, politik Islam, ekonomi dan bisnis, kesehatan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesenian, dan sebagainya. Namun, melihat kecenderungan buku-buku Islam terlaris, setidaknya dalam dua bidang, yaitu fikih dan tasawuf. (Kompas, 15 November 2003). Menjawab kenyataan ini, Azyumardi mengatakan, banyak kalangan yang memerlukan “kepastian”, terutama dalam dua hal, yaitu: pertama dalam bidang hukum (syariah atau fikih); kedua, dalam bidang batin atau eksoterisme Islam. Fikih dapat memberikan ketenangan kepada Muslim bahwa ia hidup sesuai dengan hukum Allah dan tasawuf memberikan kedamaian dan kesejukan batin. Terlebih, situasi ekonomi sosial dan politik di era reformasi semakin tidak menentu, yang menimbulkan kegelisahan dan ketidakpastian hingga orang mencari kepastian lewat agama. Tidak mengherankan jika kemudian buku-buku tasawuf dan fikih sangat digemari masyarakat.

Dalam buku berjudul Khasanah Islam Indonesia yang ditulis oleh Abdullah Fadjar, dkk menyebutkan bahwa sekuarang-kurangnya dari sekitar 1000 judul buku yang meliputi aneka ragam tema kehidupan, peneliti membuat sejumlah penggolongan besar untuk keperluan penyusunan monografi . Penggolongan ini dalam berbagai hal berbeda dari yang dilakukan para penerbit yang dikunjungi. Adapun penggolongan tersebut adalah :

  1. Buku Doktrin Islam dan pengamalannya, dalam mencari buku-buku ini sangatlah mudah, baik ditoko buku besar maupun kecil, gaya penyajian dalam buku ini pun sangat beragam.
  2. Buku Islam Kajian Ilmu Sosial – Humaniora, dalam perpustakaan kita sering membaca buku-buku yang ditulis oleh Prof. Dr. A. Mukti Ali, beliau mengutarakan bahwa perlunya ilmu-ilmu social juga melakukan kegiatan-kegiatan riset masalah keagamaan.
  3. Buku Islam Kajian Sains, contoh. Buku berjudul Keruntuhan Teori Evolusi karya Harun Yahya yang meruntuhkan teori Darwin adalah salah satu contoh buku tentang Islam Kajian Sains.
  4. Buku Pemikiran Islam, buku-buku tentang pemikiran Islam karya H. Agus Salim, STA, sampai dengan A. Syafii Maarif mewarnai daripada khasanah buku-buku tetang Pemikiran Islam Ini.
  5. Buku Islam Sufistik atau Esoterik, contoh dari buku ini adalah buku berjudul Dunia Rumi : Hidup dan Karya Penyair Besar Sufi (2002) yang diterbitkan oleh Pustaka Sufi.
  6. Buku Islam Kajian Wanita dan Gender, buku-buku Islam Agama Ramah Perempuan – Lkis, Argumen Kesetaraan Gender : Perspektif Al-Quran – Paramadina, dll adalah contoh buku-buku tentang hal ini.
  7. Buku Riwayat Islam (tentang kisah, tokoh, dan biografi), sangat banyak buku-buku riwayat Islam mengenai tokoh-tokoh dan biografi, mengingat banyak orang yang bisa dijadikan teladan.
  8. Buku Islam untuk Anak dan Remaja, buku-buku berjudul 10 Kiat mempersiapkan Anak Prasekolah Berpuasa – Ery Soekresno, Oni dan Semut Hitam – Sigit Widiantoro, dll merupakan contoh-contoh buku untuk segmentasi anak dan remaja.
  9. Buku Fiksi Islam, beberapa buku fiksi terkenal Layar terkembang karya STA, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, dll

Masih terkait dengan kategorisasi isi, menurut Azyumardi, secara umum penerbitan buku Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menekankan pada Islam murni berdasarkan Al Quran dan sunah atau yang biasa disebut sebagai Islam Salafis dan Harakah serta kelompok yang bergerak pada wacana atau diskursus, yang kadang disebut sebagai Islam kritis. (Kompas, 15 November 2003)

Pluralisme wacana tampak terlihat jelas dari beberapa penerbit Islam yang sudah lama berdiri di Indonesia, seperti Mizan dan Gema Insani Press (GIP). Di awal 1980-an, misalnya, Mizan menerjemahkan karya-karya dari beberapa pemikir Islam, seperti Hassan Hanafi, Ashgar Ali Engineer, dan Hussein Nasr. Bahkan, Mizan memperkenalkan pemikiran Ali Syari’ati yang fenomenal sebagai arsitek revolusi Islam di Iran. Ali merupakan sosiolog lulusan Perancis yang menyodorkan konsep-konsep perubahan sosial politik pada masa Syah Iran Reza Pahlevi. Pemikiran perubahan sosial yang dilakukan Penerbit Mizan ini diakui pula Haidar Bagir. Bahkan, sejak tahun 2002 Mizan gencar mengeluarkan seri Filsafat Islam yang mengemukakan pemikiran para filsuf Muslim.

Demikian halnya dengan Penerbit Lembaga Kajian Ilmu Sosial (LKiS). Sejak tahun 1993 penerbit yang bermukim di Yogyakarta ini mencoba menyebarkan gagasan pemikiran Islam “kritis”. Direktur LKiS Ahmad Fikri menyebut dengan istilah wacana kiri Islam, Ahmad Fikri mengatakan “bahwa dalam Islam ada spirit tentang teologi pembebasan juga spirit penghormatan pada pluralisme,”. (Kompas, 15 November 2003).

Dinamika kemunculan beberapa penerbitan Islam di awal reformasi menjadi perhatian dari kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL). Menurut Nong Darol Mahmada, Koordinator JIL, sejak tahun 2001 mereka telah menerbitkan 4 judul buku. Misi JIL adalah melahirkan kembali wacana keislaman yang pluralis, sebagai sanggahan terhadap gerakan Islam keras setelah era Reformasi. Bagi JIL sangat penting untuk mengembangkan pemikiran Islam moderat.

Penerbitan buku merupakan salah satu media untuk mengembangkan wacana yang mereka bangun, dalam hal ini mereka mencoba memberikan alternatif pemikiran Islam dari yang sudah ada. Tema besar yang diusung JIL, yaitu emansipasi perempuan, hak minoritas, politik Islam, kebebasan berekspresi, dan teologi negara sekuler untuk mengantar syariat Islam. Berbeda dengan penerbit di atas, Gema Insani Press (GIP), penerbitan Islam yang mengalami perkembangan usaha tergolong pesat, lebih menekankan kepada Islam yang murni dalam segenap isi buku-buku terbitannya. Ada beragam produk yang diterbitkan GIP. Dari kategori syariah dan ibadah, misalnya, buku-buku terkait dengan pedoman dan tuntunan shalat, puasa, umrah dan haji, hingga doa dan zikir diterbitkan. Sementara GIP pun menerbitkan pula kategori buku-buku akhlak, politik dan ekonomi Islam, biografi tokoh-tokoh Islam, hingga buku-buku karya para pemikir Islam, seperti Amien Rais dan Didin Hafidhuddin.

Sistem Jaringan dan Promosi Peredaran Buku-buku

Ketika buku-buku tersebut selesai diproduksi oleh penerbit, maka untuk sampai ketangan pembaca perlu sistem dan jaringan-jaringan yang ada agar karya tulis Islam tersebut bisa dinikmati, masih dalam buku karya Abdullah Fadjar, dkk. (2006 : 86), sistem dan jaringan tersebut adalah :

  1. Pameran Buku Islam, kegiatan ini merupakan sebuah medium yang dalam pandangan para penerbit dianggap penting dan strategis. Penerbit-penerbit yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) membentuk sebuah Kelompok Kerja (Pokja) Penerbit Buku Agama Islam.Salah satu prakarsa yang diambil olej Pokja itu ialah menyelenggarakan kegiatan Islamic Book Fair.
  1. Peluncuran dan Bedah Buku, Peluncuran Buku Islam bagi sejumlah penerbit, (sering pemrakarsanya penulisnya sendiri), merupakan event penting bahkan dipandang prestisius. Sistem mensosialisasikan buku dengan “launching model” banyak ditempuh oleh beberapa penerbit.
  1. Iklan, Rehal, dan Resensi, Surat kabar dan majalah menjadi media yang lazim digunakan untuk mensosialisasikan kehadiran buku-buku baru dari berbagai penerbit. Di surat kabar atau majalah dapat kita temukan tiga kolom atau rubrik iklan, rehat dan resensi.
  1. Saluran Distribusi, Sistem distribusi harus dibuat secara efektif agar penjualan buku-buku tersebut berjalan dengan lancar. Toko buku disini merupakan organisasi yang penting, selain menjual toko buku diharapkan juga memajang buku, mengumumkan buku baru dalam bentuk pamphlet.
  1. Komunitas Buku, Rumah Baca, dan Perpustakaan, Perpustakaan menjadi jaringan yang sangat penting untuk menyebarkan buku-buku Islam yang sudah diterbitkan agar bisa dinikmati oleh pembaca baik perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, dan perpustakaan masjid.

Penutup

Keragaman dalam fokus kajian buku-buku Islam merupakan hal biasa, seperti juga yang terjadi di negara-negara lain yang berpenduduk Islam mayoritas. Perbedaan pandangan bukan berarti pengotak-ngotakkan, dalam masyarakat pluralistik, seperti Indonesia, semua pandangan menjadi penting untuk mengadopsi perbedaan yang ada. Keragaman wacana akan memperkaya pemikiran yang berkembang di Indonesia. Perkembangan yang ada justru mengisyaratkan semakin terbukanya wacana Islam Indonesia.

Dalam  buku berjudul Khasanah Islam di Indonesia karya Abdullah Fadjar, dkk., terdapat beberapa kesimpulan terkait penerbitan buku di Indonesia, kesimpulan pertama adalah bahwa riset monografi penerbit buku Islam pertama-tama telah membawa ke dunia gambaran mengenai bagaimana usaha umat Islam Indonesia mengelola gagasan dan kegiatan memfiksasi, mendokumentasi dan mendisfusikan warisan-warisan kebudayaan dan peradaban Islam dalam wujud buku : sebuah artefak budaya yang memiliki nilai cultural dan nilai bisnis sekaligus. Kesimpulan kedua, riset monografi penerbit buku Islam telah mengantarkan kita  ke “jelajah kebudayaan dan peradaban Islam” yang demikian kaya, dengan spectrum yang begitu luas. Kesimpulan yang ketiga, bahwa riset monografi penerbit buku Islam telah membawa ke dunia gambaran mengenai proses pembudayaan Islam serta hasil-hasilnya di Indonesia.

Daftar Pustaka

Abdullah Fadjar. Khasanah Islam Indonesia. Jakarta: The Habibie Center, 2006.

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0311/15/pustaka/688310.htm Sabtu, 15 November 2003


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: